Tuesday, December 30

BUKTIKAN KEIMANAN

Dengan Nama ALLAH, Ar-Rahman Ar-Rahim. Selawat dan salam buat Rasulullah SAW.

Subhanallah, wa Alhamdulillah. Wa La Ilaahaillallah. 

Tuhan itu satu dan tiada dua. 
Tiada tiga. 
Dan hanya Dia. 
Penyayang. 
Pengampun dan Maha Kuasa. 
Maha Bijaksana dan Maha Menciptakan. 

Apa itu iman? Iman itu mengakui dengan hati dengan tanpa rasa terpaksa. Dengan jelas dan teguh dan tiada keraguan. Redha, bashirah, salim wa la bil syak. 

Iman yang menyeluruh kepada ALLAH dengan mengakui bahawa Dia adalah Tuhan yang Satu yang layak disembah dan dipatuhi hukumnya tanpa syak dan ragu-ragu. Seluruh, dari sekecil-kecil hukum bersuci, makan, berpakaian sehingga kepada undang-undang negara dan pengurusan manusia. 

Iman yang menyeluruh kepada ALLAH dengan meyakini dan merasai bahawa Dialah yang layak disayangi dan dirindui setiap masa, sehingga memenuhi setiap nafas yang dihela. Lemas dalam kehambaan kepada ALLAH. 

Bertapa keimanan yang sempurna kepada ALLAH akan memberikan kesan yang besar kepada hidup manusia: kehidupan dipenuhi kebenaran.


Sunday, December 28

Akhir Tahun 2014

The year is leaving and people left and will be as well. I can't stop myself writing this so bare with me  *Although somebody did not agree with the analogy cause she thinks udara dan pernafasan happens too quickly.. Incomparable to this.. i still think it does*

PERTEMUAN 
Manusia itu ibarat udara
Datangnya mengisi ruang dada
Memberi kita kehidupan
Dalam pelbagai cara- kebahagiaan atau juga pengajaran
Selesai
Maka pergilah ia
Meninggalkan dada kosong
Menanti diisi lagi
Kosong?
Hakikatnya, nafas seketika itulah yang telah menyambung saat
Pergilah, isi jiwa lain dengan kenikmatan kehidupan
Tiupkan padanya rasa dan makna kehambaan
Udara yang menyegarkan pasti kan dihirup dalam-dalam
Agar gagah urat jiwa
Bersedia menempuh dunia
Kerana Tuhanlah, manusia menjadi nikmat
Sebagaimana udara memberi manfaat

Wednesday, December 24

#ikatan


Terkadang satu simpulan perlu dirungkai
Agar kusutnya terlerai
Disulam kembali berurat jelas
Agar ikatannya bersih berhias
Hanya bersama ikhlas
Allah.

Tuesday, December 23

Sejuta nikmat

Dalam sejuta nikmat yang kita pinta
Terkadang Tuhan Yang Maha Pengasih itu menahan satu
Supaya nanti kita kekal duduk bersipu
Berdoa memohon dalam lafaz sendu
"Ya Ilahi Rabbi Malikul Karim.. aku perlu, aku mahu"
Rendah hati.
Dalam sejuta nikmat yang kita perlu
Terkadang Tuhan Yang Maha Berkuasa itu menganugerahkanya hanya seketika
Agar kita kekal terikat hanya pada Dia
bukan pada dunia
Agar kita redha tatkala ujianNya yang lain datang menimpa
"Ya Rabbi Rabbul Alamin.. sabarkan aku dalam didikan kasihmu"
Kelembutan jiwa.
Wahai Tuhan,
Benarlah hidup sebagai hambaMu itu indah tiada terkata
Maknanya hanya pada yang merasa
Kekalkan aku dalam kasih setia
Terusan bersulam dengan rasa hamba
Yang menghidupkan aku hingga nafas putus dari jiwa

Tuesday, November 11

Summary of Tonight's Tafseer Class

Summary of Tonight's Tafseer Class

Tiga Persoalan Asas

1. Dari mana kita datang?

a. Saripati air yang hina
b. Jannah
c. Janji sumpah kita bahawa Allah Tuhan kita

2. Apa tujuan hidup kita ?

Kemarahan Allah kepada mereka mengira Allah ciptakan mereka untuk main2 sahaja
Orang2 kafir hidup untuk makan dan minum seperti binatang ternak

a. Menjadi hamba Allah (51 : 56)
b. Melakukan amalan yang terbaik (Al Mulk : 2)
b. Menjadi Khalifah di mukabumi
i. Make myself better
ii. Make others better
iii. Make this world a better place
c. Menjadikan Islam cara hidup yang paling dominant
d. Hilangkan segala “fitnah” dan menjadikan Deen itu semata2 bagi Allah

3. Ke mana kita akan kembali?

a. Alam barzakh
b. Padang mahsyar
c. Peluang untuk masuk Syurga tanpa Hisab
d. Syurga yang ultimate – Jannatul Firdaus

Tuesday, August 12

Kerana aku belum mampu beriman sendirian

Nusaiba sudah tak seperti dulu..
Dulunya ada manusia yang akan mengingatkan aku tika imanku lemah,
Langkah dakwahku tersekat,
Masih menanti untuk subuh bersama,
Atau sekurangnya aku kejutkan dia;
Bila dia pergi,
Kini subuhku sendiri;
Aku tidak betah,
Pedih! Menginginkan manis subuh berjemaah itu untuk kembali,
Itulah dia nikmat yang mungkin tiada aku hargai saat dia senantiasa disisi;

Saat pulang di sisi yang menanti;
Aku... Ibadatnya masih sendiri;
Tazkirahnya perlu di cari-cari~
Tidak seperti tika bersama mereka yang ingin mengoreksi diri,
Ah! Aku tak betah lagi;
Apa usaha dakwahku tiada seni?
Atau istighfarku yang belum cukup menjemput rahmat Ilahi? 
Atau mungkin jahiliyyah dosaku masih menutup pintu kasih Ilahi? 
Pedih~ 
Tiadakan daya aku menanti..
Oh Tuhan! Kembalikan aku pada iman.
Kekalkan aku dalam ketenangan.
Agar hatiku senantiasa kesegaran;
Hidup
Celik
Kedahagaan mencari keredhaan
Perbekalan sepanjang perjalanan
Menanti saat pulang
Bertemumu selepas kematiaan

Ia Tuhan! 
Aku masih ingat tentang pertemuan itu~
Maka kuatkan aku hingga kita bertemu.

Thursday, August 7

Of elective

Terasa mcm kena banned je dgn doktor2 kat tempat elektif ni. Hurmmm.. Dah offended sesape ke?

Padahal pasal lab coat je pon. Sedey sy mcm ni~~
-.-" 

Tuesday, August 5

I am missing my old friendssss. Happiness feels good. 

Tuesday, July 22

Why do we choose to punish?

Teman

Harganya mahal?

Sukarnya menyantuni manusia..

Why some people enjoy being mad at me?
This is probably a statement of my disappointment because I feel people had prioritised their feelings of disappointment over trying to understand my circumstances. Am I trying to make statement to defend myself? May be.

Oh Lord what does having sahabat means? I longed for a company who brings me closer to you. Together makes me believe in myself back again and feel supported cause I wish to help and support more people out there.

Seek to understand, then to be understood.

I think now, I am just trying to build a great wall of ice around me to be away from everybody. Cause now, it seems like I have internalised the fear of being disappointed and taken advantage. Will I be able to melt this back again? I don't know. Losses of good companies and shoulders to cry on had made the ice harder.

Why do we choose to do things the hard way?
Why do we choose to be reactively disappointed?
Why don't we choose to understand?
Why do we choose to hurt both hearts? Why do we choose t hurt our own?


Friday, June 27

another countdown

three days ago, i needed to start another countdown.

10 more days to another exam. i was scared because it is going to be osce that i have to re-sit. another osce for fourth year exam. one more osce. one more round. 10 stations. please oh Lord make it easy. i know nobody that can calm my worries down. i know no beings that can promise me sunshine. it is only You that will never turn me down.

i know there will be hikmah behind everything that is happening now. please make me strong in my iman and my amal. please make me truthful in my words and my tawakkal. smile for the best future is always for the believers.

whatever it is, alhamdulillah, thummalhamdulillah i passed my written exam. :') a news i am glad to hear.

please help me to face this ya Rabb. two countdown at a time. seven days to exam, seven days to resit. ramadhan is tomorrow, i shall smile. exam in the blessed month of Quran.

me,

hamba.

Wednesday, June 11

Kononnya kita

Kalau Allah boleh bersabar dgn kita yg banyak berbuat dosa dalam keadaan sedar;

Kalau teman-teman boleh bersabar dgn kita yg banyak dosa yang diulang-ulang dan dibutakan;

Kenapa tidak kita lakukan yang sama pada yg lain? Apatah lagi mereka yg masih mentah dan tidak tahu apa itu salah, mungkin sahaja mereka hanya tersalah langkah; 
Butuh kemaafan dan keikhlasan pimpinan kita yang kononnya lebih banyak pengalaman. 

Saturday, June 7

Uncertainties

Its just part of your life. Learn to live with it. Have faith in The Planner, you'll find a 'perfect' pace. 

Sunday, June 1

Perfect

Nobody is perfect and appreciating this, makes you perfect. 

At least (in the path to be) a perfect servant to the Master of Perfection. 


Tuesday, May 27

Daie

Daie itu, lembut hatinya pada derita ummat;
Sakitnya ummat, mencetus duka dihatinya;
Menguatkan dia untuk terus setia, pada Allah Yang Maha Esa;
Kucar-kacir masyarakat, menjadi beban fikirannya;
Yang diinginkan hanya kebaikan buat mereka;
Hatinya menangis memohon bantuan Tuhan Yang Berkuasa;

Saat demi saat dia menghitung dirinya;
Hai jiwa, mana mungkin daie yang banyak dosa mampu memikul dakwah yang mulia;
Maka dia berusaha;
Memuhasabah dirinya dan juga berubah tanpa alasan sia-sia.

Terkadang kita terlalu memandang diri kita mulia.

*exam ramblings after reading news back home :(

Monday, May 26

10 days count down

Its ten days to first paper of fourth year final exam with remaining three days of final placement. Please pray for me my lovely friends. Please pray that I will do it right. I am sometimes, a careless person. Please pray that I'll do things right.

#rumahsakit
#examiscoming

Friday, May 23

My Wings

My wings are my faith and my hope;
O Allah, forgive me for my shortcomings and sins; 
O Allah, bless me with serenity for believing and to keep believing;
O Allah, strengthen me and never leave me so fragile and scared.


Wednesday, May 21

The Art of Making Decision; the art of Living

We live, with the aim to do the best. Live it the best way so that we will not regret. We were given ability to think hence we can justify our options, make informed decisions, be prepared for the foreseen consequences.

Therefore, please do not mourn over the adverse consequences of wrong decision that you have made especially when you do it consciously.  You just shouldn't because you have chosen it. It was you who decide. If you knew you can't bear the consequences why did you adopt the decision? You decided to stand for something, so be brave. If you don't think you are not that strong, which you will be; than please do things right, humbly right. Consulting ALLAH, the believers and your iman; putting aside was was of syaitan and desires of nafs. 

Whenever you did good, it was to your own advantage; and whenever you committed evil, it was to your own disadvantage... (Isra:7)

Tuesday, May 20

Oh my Lord

Oh my Lord,
If humility is a the way for us to walk our remaining journey to you
Please please make our path to it easy

Oh my Lord,
If patience is the price for us to keep going 
Please please make us strong with it

Oh my Lord,
If trust in you is the root for this faith to live on
Please please keep all the other things good so the root will not be infected and die

Oh my Lord,
Clean us from all the dirt
Strengthen us with believing in your planning

Less than three weeks

It is coming in less than three weeks. I am worried to be honest. It is the so-called 'last chance' for me. Whether or not it's gonna be medical school again next year. Oh Lord, please guide me and bring me through this. I am of no power, will and capability without your mercy.

Saturday, May 17

Praying for Success

A talk on one of my favourites ayat since learning to know Quran and D&T; given by my long-time-no-see murabbiah. It's wonderful to know that she is well and happily enjoying her life post-HO and umrah by the side of  her beloved family now.

As for me, it is three weeks to end of fourth year exam, round two and final trial. Please ALLAH, help me through it.


Friday, May 16

Yang aku tahu, Allah bersamaku

** kopi pes**
Assalamualaikum wbt,
Saya kongsikan tazkirah dari seorang ukhti.


aku percaya
maka aku akan melihat keajaiban
iman adalah mata yang terbuka
mendahului datangnya cahaya

"AKU".
Jawapan Musa itu terkesan tak tawadhu'. Ketika seorang di antara Bani Israel bertanya siapakah yang paling 'alim di muka bumi, Musa menjawab, "Aku". Tapi oleh sebab jawapan inilah di Surah Al-Kahfi membentang 23 ayat, mengisahkan pelajaran yang harus dijalani Musa kemudian. Uniknya di dalam senarai ayat-ayat itu terselit satu lagi kalimat Musa yang tak tawadhu'. "Kau akan mendapatiku, insyaAllah sebagai seorang yang sabar". Ini ada di ayat yang keeampuluh sembilan.

Di mana letak angkuhnya? Bandingkan struktur bahasa Musa, begitu para musfassir mencatat, dengan kalimat Ismail putera Nabi Ibrahim. Saat mengungkapkan pendapatnya pada sang ayah jikakah dia akan dismebelih, Ismail berkata, "Engkau akan mendapatiku insyaAllah termasuk orang-orang yang sabar". 
Tampak bahawa Ismail memandang dirinya sebagai bagian kecil dari orang-orang yang dikarunia kesabaran. Tapi Musa, menjanjikan kesabaran atas nama peribadinya. Dan sayangnya lagi, dalam kisahnya di surah al-Kahfi, ia tak sesabar itu. Musa kesulitan untuk bersabar seperti yang ia janjikan. Sekira dua puluh abad kemudian, dalam rakaman alBukhari dan Muslim, Muhammad s.a.w bersabda tentang kisah perjalanan itu, "Andai Musa lebih bersabar, mungkin kita akan mendapat lebih banyak pelajaran".
Wallahu'Alam. Mungkin memang seharusnya begitulah karakter Musa AS. Kurang tawadhu' dan tak begitu penyabar. Sebab, yang dihadapinya adalah orang yang paling angkuh dan menindas di muka bumi. Bahkan mungkin sepanjang sejarah. Namanya Firaun. Sangat tidak sesuai menghadapi orang seperti Firaun dengan kerendahan hati dan kesabaran selautan. Maka Musa adalah Musa. Seorang hamba yang Allah pilih untuk menjadi utusannya bagi Firaun yang sombong berlimpah justa. Dan sekaligus, memimpin Bani Isreal yang keras kepala.

Hari itu, setelah ucapannya yang jumawa, Musa menerima perintah untuk berjalan mencari titik pertemuan dua lautan. Musa berangkat dikawani Yusya ibn Nun yang kelak menggantikannya memimpin trah Ya'qub. Suatu waktu, Yusya melihat lauk ikan yang mereka kemas dalam bekal meloncat mencari jalan kembali ke lautan. Awalnya, Yusya lupa memberitahu Musa. Mereka baru kembali ke tempat itu setelah Musa menanyakan bekal akibat deraan letih dan lapar yang menggeliang dalam usus.
Di sanalah mereka bertemu dengan seorang yang Allah sebut sebagai, "Hamba di antara hamba-hamba Kami yang Kami anugerahi rahmat dari arsa Kami, dan Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami". Padanyalah Musa berguru. Memohon diajar sebagian dari apa yang telah Allah fahamkan kepada Sang Guru. Nama Sang Guru tak pernah disebut dalam al-Quran. Dari hadis dan tafsir lah kita berkenalan dengan Khidzir. 
Kita telah akrab dengan kisah ini. Ada kontrak belajar di antara keduanya. "Engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar. Dan aku takkan mendurhakaimu dalam perkara apapun!", janji Musa. "Jangan kau bertanya sebelum dijelaskan kepadamu", pesan Khidzir. Dan dalam perjalanan menyejarah itu, Musa tak mampu menahan derasnya tanya dan keberatan ats tiga perilaku Khidzir. Perusakan perahu, pembunuhan seorang pemuda, dan penolakan ats permohonan jamuan yang berakhir dengan kerja berat menegakkan dinding yang nyaris roboh. Tanpa minta imbalan.

Alhamdulillah, kita belajar banyak dari kisah-kisah ini. Kita belajar bahwa dalam hidup ini, pilihan-pilihan tak selalu mudah. Sementara kita harus tetap memilih. Seperti para nelayan pemilik kapal. Kapal yang bagus akan direbut raja zalim. Tapi sedikit cacat justeru menyelamatkannya. Sesuatu yang 'sempurna' terkadang mengundang bahaya. Justeru saat tak utuh, suatu milik tetap bisa kita rengkuh. Ada tertulis dalam kaedah fiqh, " maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh.. apa yang tak bisa didapatkan sepenuhnya, jangan ditinggalkan semuanya"
Kita juga belajar bahawa 'membunuh' bibit kerosakan ketika dia baru bercambah adalah pilihan bijaksana. Dalam beberapa hal seringkali ada manfaat diraih sekaligus kerusakan yang meniscaya. Padanya, sebuah tindakan didahulukan untuk mencegah bahaya. Ada tertulis dalam kaedah fiqh, "Dar'ul mafaasid muqaddamun 'alaa jalbil mashaalih. Mencegah kerosakan didahulukan atas meraih kemaslahatan".

Dan dari Khidzir kita belajar untuk ikhlas. Untuk tak selalu menghubungkan kebaikan yang kita lakukan, dnegan hajat-hajat diri yang sifatnya sesaat. Untuk selalu mengingat urusan kita dengan Allah, dan biarkanlah tiap diri bertanggungjawab padaNya. Selalu kita ingat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sultan Damaskus yang dimakan fitnah memenjarakan dan menyiksanya. Tapi ketika bayang-bayang kehancuran menderak dari Timur, justeru Ibnu Taimiyah yang dipanggil Sultan untuk maju memimpin ke garis depan. Berdarah-darah ia hadapi air bah serbuan Tartar yang bagai awan gelap mendahului fajar hendak menyapu Damaskus.
Ketika musuh terhalau, penjara kota dan siksa menantinya kembali. Saat ditanya mengapa rela, ia berkata, "Adapun urusanku adalah berjihad untuk kehirmatan agama Allah serta kaum muslimin. Dan kezaliman Sultan adalah urusannya dengan Allah".

Iman dan Keajaiban yang Mengejutkan 

Subhanallah, alngkah lebih banyak lagi ibrah yang bisa digali dari kisah Musa dan Khidzir. Berlapis-lapis. Ratusan. Lebih. Tapi mari sejenak berhenti di sini. Mari picingkan mata hati ke arah kisah. Mari saksamai cerita ini dari langkah tertatih kita di jalan cinta para pejuang. Mari bertanya pada jiwa, di jalan cinta para pejuang siapakah yang lebih dekat ke hati untuk diteladani?
Musa. Bukan gurunya.
Ya, kerana di akhir kisah Sang Guru mengaku, "Wa maa fa'altahuu min amrii..Apa yang aku lakukan bukanlah keinginanku". Khidzir hanyalah guru yang dihadirkan Allah untuk Musa di penggal kecil kehidupannya. kepada Khidzir, Allah berikan semua pemahaman secara utuh dan lengkap tentang jalinan pelajaran yang harus ia uraikan pada Rasul agung pilihanNya, Musa AS. Begitu lengkapnya petunjuk operasional dalam tiap tindakan Khidzir itu menjadikannya sekadar sebagai operator lapangan yang mirip malaikat. Segala yang ia lakukan bukanlah perkaranya. Bukan keinginannya.

....

Justeru keagungan para rasul itu terletak pada kemampuan mereka menyikap perintah yang belum tersingkap hikmahnya dengan iman. Dengan iman. Dengan iman.Berbeda dengan Khidzir yang diberitahu senario dari awal hingga akhir atas apa yang harus dia lakukan-ketika mengajar Musa-, para Rasul seringkali tak tahu apa yang akan mereka hadapi atau terima sesudah perintah dijalani. Mereka tak pernah tahu apa yang menanti di hadapan.

Yang mereka tahu hanyalah, Allah bersama mereka. 

Nuh yang brsipayah membuat kapal di puncak bukit tentu saja harus menahan geram ketika dia ditertawai, diganggu, dan dirusuh oleh kaumnya. Tetapi, sesudah hampir 500 tahun mengemban risalah dengan pengikut yang nyaris tak bertambah, Nuh berkata dengan bijak, "Kelak kami akan mentertawai kalian sebagaimana kalian kini mentertawai kami".
Ya, Nuh belum tahu bahawa kemudian banjir akan tumpah. Tercurah dari celah langit, terpancar dari rekah bumi. Air meluap dari tungkunya orang membuat roti dan mengepung setinggi gunung. Nuh belum tahu. Yang ia tahu adalah ia diperintahkan membina kapalnya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya.

Ibrahim yang bermimpi, dia juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putera tercinta. Anak itu, yang lama dirindukannya, yang dia nanti dengan harap dan mata gerimis di tiap doa, tiba-tiba dititahkan untuk dipisahkan dari dirinya. Dulu ketika lahir dia dipisah dengan ditinggal di lembah Bakkah yang tak bertanaman, tak berhaiwan, tak bertuan. Kini Ismail harus dibunuh. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh tangannya sendiri.

Dibaringkanlah sang putera yang pasrah dalam taqwa. Dan ayah mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayau leher sang putera dengan pisau? Ayah mana yang sanggup mengalirkan darah di bawah kepala yang biasa dibelainya sambil tetap menatap wajah? Tidak. Ibrahim terpejam. Dan ia melakukannya! Ia melakukannya mesti belum tahu bahawa seekor domba besar akan menggantikan sang korban. Yang diketahuinya saat itu bahawadia diperintah Tuhannya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksankan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya.

Musa juga menemui jalan buntu, terantuk Laut Merah dalam kejaran Firaun. Bani Israel yang dipimpinnya sudah riuh tercekam panik. "Kita pasti tersusul! Kita pasti tersusul! Sesungghnya Rabbku bersamaku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku". Petunjuk itu pun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata, "Apa gunanya? Lebih baik dipukulkan ke kepala Foraun!" Ya, bahkan Musa belum tahu bahawa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. dan itu cukup baginya.

Merekalah para guru sejati. Yang kisahnya membuat punggung kita tegak, dada kita lapang, dan hati berseri-seri. Yang keteguhannya memancar menerangi. Yang keagungannya lahir dari iman yang kukuh, bergerun mengatasi gelojak hati dan nafsu diri. Di jalan cinta para pejuang, iman melahirkan keajaiban. Lalu keajaiban menguatkan iman. Semua itu terasa lebih indah kerana terjadi dalam kejutan-kejutan. Yang kita tahu hanyalah "Allah bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku".


Nuh belum tahu bahawa banjir nantinya tumpah
ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai
Ibrahum belum tahu bahawa akan tercawis domba
ketika pisau nyaris memapas buah hatinya
Musa belum tahu bahawa lautan kan terbelah
saat ia diperintah memukulkan tongkat
di Badar Muhammad berdoa, bahunya terguncang isak
"Andai pasukan ini kalah, Kau takkan lagi disembah!"

dan kita pun belajar, alangkah agungnya iman!

*************************************************

Mari kuatkan usaha untuk terus berbuat walau kita tak tahu apa yang menanti di hadapan. Moga Allah menghantar pertolonganNya buat kita semua.

Bittaufiq wannajah

Thursday, May 15

Surah Maryam & Al Kausar

Sharing usrah khamis lepas.

Kami tadabbur cerita Maryam (19:12-27) dan sharing tafsir kausar.

TADABBUR SURAH MARYAM

1. Ayat 22 cerita ttg maryam yg mengasingkan diri ketika mengandungkan Nasi Isa as. 

Maryam tak buat dosa, tapi dia mengasingkan diri kerana pandangan manusia. Skrg kita tgk manusia buat dosa dan bangga dgn dosa. Kita tahu besarnya marah Allah pd org yg menyesatkan manusia lain dan bangga dgn dosanya. Kita doa spy Allah tak menjadikan kita 'syaitan' yg menyesatkan manusia lain dgn memenuhi kehendak nafsu kita. Semoga kita benar2 menjadi hamba Allah. 

2. Ayat 23 cerita Maryam mengharapkan kematian dan menjadi orang yang tidak diperhatikan dan dilupakan. 

She wished for something that doesnot reflect the value of Allah's belssing to her pdhal dia tahu Nabi Isa adalah rahmat Allah, kemuliaan kpd dia. 

 *dgn cth ni kita tak memandang rendah pd ap yg Maryam buat, tapi utk kita belajar dan perbaiki diri kita* 

Yg kita reflected was bila kita dalam extremes of emotions: marah, takut, kecewa, risau... Kita akan buat wishes atau kata2 yg sgt buruk dan tergesa-gesa. Takut dlm extremes of emotions kita akan minta sesuatu yg menjadikan kita sombong atau tidak bersyukur, pessimis. 

Indeed utk jd org yg betul2 besyukur dan optimis pd Allah bukan semata2 pd kata-kata. Kadang2 kita kata kita sabar bila diuji Allah tp padahal saat kita diuji, kita mengeluh dgn sgt banyak, malah tackle ujian Allah itu dgn akhlak yg sgt buruk atau mungkin dgn memandang tinggi pd diri kita sendiri. Some emotions can be subtle but it will come to the surface especially bila kita rasa tertekan. 

Jwpan kpd menghadapi ujian Allah dgn baik adalh utk menerima ujian Allah dgn rela hati dan meminta kekuatan/rahmat Allah spy ujian ituk dpt dilalui dgn baik. Bukan meminta utk Allah hilangkan tugasan/ujian itu terus, tapi utk minta kekuatan spy mampu buat dgn baik. Sbgaimana doa Nabi Musa ketika dia disuruh berjumpa dgn Firaun: he didnt say, i cant, but he said: lapangkan dadaku, mudahkan urusanku... (He asked for things that he will need to face the trials)

In our life, sometimes we want happiness so much that we become disappointed with trials. Face the trials the right way, inshaAllah blessings will come with it. 

Ni talk nouman ali pd ayt surah tahaa tu. Have a listen, moga ayat2 Allah membentuk akhlak dan perasaan kita. *pertamanya: kerendahan hati seorang hamba kpd Tuhan dan kepercayaan hamba kepada kekuasaan Tuhannya.. Once you have this, inshaAllah other things will come into place.


SHARING SURAH KAUSAR

In short, surah ni turun sbb Allah nak pujuk Nabi saw lepas org kafir kata nabi adalah org terputus (abtar) krn takde waris (semua anak lelaki dia mati), tp Allah remind Nabi ttg nikmat2 yg dia dah bg, pesan utk terus beramal dgn ikhlas dan berterusan berkorban dan kemudiannya stresskan lagi bhw org yg memandang buruk pd agama tu, dialah yg rugi dan hina. 

Ada 3 points yg boleh kita cuba didik dlm jiwa kita: 

1. Affective learning; kita kena rasa bangga menjadi hamba kpd Allah. Allah nak kata being a muslim is something that is really valuable dan reflected dlm ayat2 lain sbg cth: 3:136 - jgn kamu rasa lemah dan sedih hati, kamu yg tinggi darjatnya kalau kamu org beriman.

2. Cognitive learning: we need to really conciously realise betapa byknya nikmat yg Allah da bg pd kita. 
Pd Nabi, Allah kata dia bg Al-Kausar- nikmat yg byk dan berterusan. Ada ahli tafsir menafsirkan sbg kenabian, telaga kausar dan bbrp lagi. 

Tapi kita pun Allah bg banyak nikmat jg. Just sometimes we fail to appreciate the blessings. Thats why we cant see the wonders around us. Kadang2 kita sedey, the FIRST THING we do is whine or relax wif movies, shoppings etc.  Padahal Allah dah berikan AQ dan ajarkan solat utk kita get connected to Him directly.  We fail to appreciate it. So we choose something simple. Something that has more material value but less permanent effect. Allah is permanent. But it is hard for to appreciate it because we have relied too much on the worldly comfort. 

Semoga Allah mendidik kita utk menghargai dan memahami makna kedekatan Dia dlm hidup kita sbgmana yg  Dia ajarkan dlm surah Al Baqarah 2:186 - fa inni qarib *hingga akhir ayat*

3. Psychomotor learning: dgn menjadi org bersyukur, kita kena berusaha: 

3.1 - utk IKHLASKAN AMAL kita kpd Allah which means buat ap yg Allah suruh krn Allah dan tinggalkan apa yg Allah larang juga kerana Allah. THESE SHOULD NOT BE MIXED UP - sbagaimana air sirap manis yg sedap akan rasa sgt xsedap kalau kita tambah garam. Ikhlas maknanya doing things for the right purpose in the right way. Mengambil islam secara total kerana Allah, meninggalkan jahiliyyah secara total juga kerana Allah. Barulah tercapai maknanya pesanana Allah spy kita udkhulu fi silmi kaafah - masuklah ke dlm silmi (islam, kedamaian dan keselamatan) scr keseluruhan. 

3.2 - berkorbanlah. Korban hati dan perasaan, tenaga, masa, cinta - especially cinta pd diri sendiri dan dunia. 



Monday, May 12

The present that reminds you to the Presenter

What does it means to have family of mujahid mujahidah? It is to be truthful to ALLAH and return all the wonders to Him with having absolute faith in Him. Can we achieve that?





Saturday, May 3

Memaknakan janji seorang hamba

Bismillah

Lima tahun yang lepas, saat aku mula mengenal dunia tarbiyah, aku cuba melembutkan hati. Aku tahu, inilah ia jalan yang aku pinta dari Tuhanku. Jalan yang aku pinta dalam lafaz doa yang terlintas bersama air mata yang mengiringi kekecewaan pada diri yang tega melakukan dosa-dosa. Saat-saat itu, saat jahilku. Saat itu aku tega meladeni hawa' yang benar-benar memenuhi nafsuku pada suatu sudut dalam jiwa itu benar-benar sentiasa memujukku untuk takut pada Tuhanku. Ia meminta dengan rayuan dalam kelemahan.

Hai Tuhan, selamatkan aku. Selamatkan.
Tapi aku masih ingat waktu-waktu itu, jiwa ini benar keras. Meneruskan langkah bodoh bergelumang dalam lubuk jahil hitam. Lalai. Bahagia dengan dunia. Buta pada makna dan nilai dosa. Padahal yang menyusul kelalaian dan jahiliyyah itu adalah kekecewaan nyata yang membawa pada doa-doa dan tangisan mohon ampun dalam solat.

Maka, saat aku mendapat peluang mengenal jalan membersihkan jiwaku, dan dia bawa aku jauh dari kehidupan lamaku, aku tekad meninggalkan lubuk hitam itu. Walaupun aku tidak mampu nafikan bahawa kebusukan lubuk hitam pekat itu bercampur baur dengan halusinasi keindahan dan kelekaan; aku tekad untuk memenangkan rasa pedih yang merayu-rayu itu. Aku ingin berubah. Jalannya? Aku mohon Tuhan yang pimpinkan.

Kini sudah hampir lima tahun aku menitinya. Aku mulakan langkah-langkah itu dulu dengan beberapa rangkap kata:

Bernafas dalam jiwa hamba, melangkah mencari cinta, menggapai redha, setiap langkah yang dihayun, nafas yang dihembus, aku ingin semakin lebih dekat denganNya. Dan itulah, derapan langkah kehambaanku. 
Mengingati apa yang telah dilalui, pasti ada hati yang akan sebak dan hati itu adalah hatiku. Sukar benar, aku tidak ingin menipu, Ujian Tuhan Yang Maha Esa itu benar-benar menggugah hati yang pada setiap puncak ujiannya, pasti hati akan berdetikan,

"Kenapakah begini?" - Takjub dengan hebatnya perancangan Ilahi
"Benarkah aku ingin teruskan ini?"  - Ragu pada kuatkah tekad dan kemampuanku sendiri
"Pedih benar wahai Tuhanku"  
Tapi aku benar ingin memaknakan janjiku itu. Janji seorang hamba. Yang telahku niatkan, antaranya saat aku mula menghayati lafaz doa iftitahku. Saat aku niatkan aku ingin membumikan benih ini di daerah hatiku. Bagaimana?

Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, matiku kerana ALLAH Taala.
Bagaimana?

tbc... 
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ  
Ya Tuhan, kuatkanlah aku denganMu. Golongkan kami dalam kalangan Siddiqun wa Raasyiduun. 

Thursday, May 1

hari saat hati di tarik-tarik

mixed feeling   [ ^^,] but struggling to believe people again 

aku mohon Tuhan.. kembalikan ketenangan itu 
keletihan bermain tarik tali dengan kemarahan sedang hal itu hanya hal kecil

Wednesday, April 30

ramblings: option akhir adalah tidur

Bismillah,

Past few days macam stress sikit. One of the most hated thing in this life for me is seeing somebody who I know, pull a face in front of you and not talking to you... just out of the blue. HATED THING. Really struggled to face my own anger towards this so called stupidity, in my point of view. But not the tiring pain is caused by my struggle to face my anger. 

In the end, I slept and I guess it was therapeutic. Feeling better this morning. 

Just a rambling. 

Just wanna tell those out there; 

Whenever you are stressed out with your problems or your life, PLEASE, PLEASE, PLEASE know ... that your circumstances do not grant you a license to treat others obliviously and ignorantly bad. If you think you are stressed out.. do therapeutic things. Smile. Then you will fill better. Talk to yourself and reflect on your feelings. BE EXTRA CAUTIOUS on your attitude cause you might hurt others. Minimizing the unnecessary damage. Is making good deeds not therapeutic? People don't have to know that you are feeling under the weather or crap by you making them feel crap. Say it! Then you might get a positive things back. Say it: " Sorry guys, I am not feeling OK today. Keep smiling or just ignore me for a while" Then that's it! The problem sorted and you don't hurt other people. Just say it. Respect others the way you want others to respect you and treat you with love. 
Rambling me,
Me. 

Thursday, April 24

Qudwah dari hati

I reposted this story from pks website because I found the story of this late muslimah to be so profound and amazing. I can feel the love of people towards her. Most importantly, her husband deacribed her to be such a great woman who took only Allah to be the best company by her side, she really had made the best trade with her Lord.

" Ya Allah tunjukkan aku kebenaran dan rezekikan aku  untuk mematuhinya, dan tunjukkan aku kebatilan dan rezekikan aku untuk menjauhinya "

" Berikan jodoh dan keturunan yang baik, penyejuk mata kami, jadikan kami imam orang bertaqwa "


***********

Selamat Jalan Isteriku, Engkau Layak Atas Karunia Syahid itu...


17 tahun yang lalu, saat masih aktif menjadi penulis buletin dakwah, aku membaca nama pelanggan yang memesan buletin tersebut. Hj. Robiatul Adawiyah, pasti wanita yang sudah tua. Sudah naik haji dan namanya jadul sekali. 
“Akhi, seperti apa sih ibu Robiatul ini,” tanyaku kepada Pak Marjani yang bertugas mengantar buletin. ”Ndak tahu, nggak pernah ketemu, yang saya tahu dia pesan buletin itu untuk dikirim via bis ke Kotabangun”. 
Wah wanita yang mulia, mau menyisihkan uang untuk berdakwah kepada masyarakat di hulu sungai Mahakam. Tak lama kemudian setelah kita menikah, Buletin Ad Dakwah dari Yayasan Al Ishlah Samarinda diantar ke rumah. Ternyata wanita mulia tersebut adalah engkau istriku, bukan wanita tua seperti yang kukira. Melainkan mahasiswi yang aktif mengajar di Taman Al Quran.
Istriku, beruntung aku dapat memilikimu. Sudah beberapa pemuda kaya yang mencoba mendekatimu tetapi selalu kau tolak. Kelembutanmu dan kedudukanmu sebagai putri seorang ulama besar menjadi magnet bagi para pria yang ingin memiliki istri sholehah. Kamu beralasan belum ingin menikah karena mau konsentrasi kuliah. Padahal alasan utamanya adalah kamu masih ragu dengan kesholehan mereka. Ketika Ustadzah Purwinahyu merekomendasikan diriku, tanpa banyak tanya kau langsung menerimaku. Hanya karena aku aktif ikut pengajian kau mau menerimaku, tanpa peduli berapa penghasilanku.
Istriku, semua orang mengakui bahwa kau wanita yang tangguh. Jarang seorang wanita bercita-cita memiliki delapan anak sepertimu. Melihatmu seperti melihat wanita Palestina yang berada di Indonesia. Jika bertemu dengan Ustadz Hadi Mulyadi, suami mba Erni ustadzahmu, pasti pertanyaan pertama kepadaku adalah, “ Berapa sekarang anakmu?”. Sering orang bertanya kepadaku, “ Gimana caranya ngurus anak sebanyak itu?” Mudah, rahasianya adalah menikahi wanita yang tangguh sepertimu.
Kehangatanmu membuat anak-anak kita merasa nyaman di dekatmu. Di saat kau lelah sepulang dari mengisi halaqoh atau ta’lim mereka segera menyambutmu dan melepaskan kekangenan mereka. Kadang lucu melihat mereka membuntuti kemana kamu pergi. Kamu ke dapur mereka bergerombol di sekitarmu, pindah ke ruang tamu, pindah pula mereka ke ruang tamu. Masuk ke kamar, berbondong-bondong mereka ke kamar. Sampai ada anak yang selalu memegang-megang bajumu dan kamu berkomentar,” Nih anak kayak prangko aja, nempeeel terus.” Jangan salahkan mereka, akupun memiliki perasaan yang sama dengan mereka.
Kadang jika cintaku meluap aku berkata padamu, ”Bener nih kamu ndak nyantet aku? Aku kok bisa tergila-gila begini sama kamu?” Kamu tersenyum dan berkata, "cinta Umi ke Abi lebih besar dari cinta Abi ke Umi, Abi aja yang ndak tahu.”

Rasulullah bersabda, "Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad). Sungguh aku merasa telah mendapatkan segalanya dengan kau di sisiku.
Kepribadianmu yang mudah bergaul menjadikanmu disenangi oleh banyak orang. Kamal berkata, “Umi terkenal banget di sekolah. Aku, Mba Aisyah, Mas Nashih, Hamidah, Hilma ini terkenal di sekolah karena anak Umi. Guru-guru kenal kami karena kami anak umi.” Aku ingat perjuanganmu menggalang beberapa orang tua murid ke kantor diknas untuk meminta tambahan kelas agar anak kita yang terlalu muda bisa diterima sekolah. Akhirnya SDN 006 Balikpapan mendapat tambahan kelas dan anak kita bisa bersekolah di sana. Seharusnya aku yang melakukan hal itu, bukan kamu.
Aku terpesona dengan caramu menjalin silaturahim dengan keluarga besarmu. Ketika kita pindah ke Balikpapan, sering kakak-kakakmu menelpon menanyakan kapan liburan ke Samarinda. Mereka rindu kepadamu. Kakakmu KH. Fachrudin, seringkali menelpon, "Kita mau ngadain acara ini, kamu ke Samarinda kah?” Sya’rani, kakakmu yang sering bepergian ke Jawa, ketika mendarat di Balikpapan pun sering berkata, "Baru dari Jawa, mau ikut saya sekalian naik mobil ke Samarinda?” Keponakan-keponakanmu pun sering bertanya, “Acil Robiah kapan ke Samarinda?” Jika kita liburan ke Samarinda, maka kemeriahan meledak begitu mendengar suaramu mengucapkan salam. “Wah, Haji Robiah dari Balikpapan.”
Aku kagum dengan semangatmu melaksanakan amanah dakwahmu. Sering kerinduanmu kepada keluargamu tertahan karena ada amanah dakwah yang harus kamu kerjakan. ”Sebenarnya akhir pekan ini keluarga besar kumpul. Ada acara keluarga. Tapi ada halaqoh ini dan majelis talim ini jadi ndak bisa ke Samarinda.” Semoga Allah SWT memasukkanmu ke dalam barisan orang-orang yang berjuang menegakkan agama ini.
Kesibukanmu berdakwah memang menyita waktumu. Tapi aku ridho karena kau tetap komitmen untuk mengurus rumah tangga dengan baik. Aku ridho ketika PKS berdiri, kamu bergabung dan berdakwah bersama mereka. Kulihat kau begitu menikmati hidupmu yang mungkin bagi pandangan sebagian orang sangat melelahkan.
Kamu juga aktif mengisi kajian Siroh Shahabiyah di Radio IDC FM. Ketika engkau ingin berhenti karena hamil dan mengajukan ustadzah lain, mba Irna yang mengasuh acara menolak dan mengatakan sebaiknya cuti saja dan sementara akan diputar ulang rekaman yang terdahulu. Saya tahu mereka pun telah jatuh cinta kepadamu.
Saat Ustadz Cahyadi mengadakan pelatihan keluarga, beliau meminta para peserta menulis tentang pasangannya. Aku terkejut ternyata engkau mengenaliku dengan baik. Engkau tahu makanan yang kusukai dan kubenci, teman-teman yang kuanggap shahabatku, karakter-karakterku, dan teman-teman Halaqohku. Diam-diam engkau memperhatikanku. Terimakasih telah memahami diriku.
Pernah kau mengatakan bahwa kau ingin naik haji bersamaku. Aku mengatakan bahwa kamu sudah naik haji sehingga tidak wajib lagi. Kalau aku punya uang aku akan mengajak anak kita naik haji bukan kamu. Kamu berkata, “Aku akan kumpulkan uang daganganku agar bisa naik haji bersamamu.” Kamu pernah bercerita bahwa saking nikmatnya berada di Kota Mekah, kamu pernah berusaha tukar kloter dengan orang lain agar bisa bertahan lebih lama di kota Mekah.
Istriku, aku suka dengan caramu berbakti kepadaku. Ketika ustadz Muhadi mengajakku mendirikan SDIT Nurul Fikri Balikpapan kau pun mendukungku. Padahal kau tahu bahwa ini akan kembali mengurangi jatah uang belanja untukmu. Bahkan kau berkata, "Aku akan alihkan infaq-infaq yang selama ini ke lembaga zakat ke Nurul Fikri.” Selama ini kau memang menyisihkan uang transport dari mengisi majelis-majelis ta’lim untuk menunjang dakwahmu.
Istriku, aku menikmati sentuhan bibirmu ke pundakku sambil memelukku di saat kita naik motor berdua. Mungkin itu caramu menunjukkan kesetiaanmu. Aku tersanjung dengan gayamu menunjukkan cemburumu. Aku merindukan caramu menegurku jika engkau melihatku lalai dalam urusan agama kita. Aku merasa bahagia saat kau memujiku. Aku merasa hebat ketika engkau bermanja kepadaku.
Aku salut dengan kecintaanmu terhadap ilmu. Setiap ada ta’lim yang mendatangkan ustadz yang berkualitas kau berkata, “Harus duluan nih biar dapat duduk di depan.” Sayang, karena begitu banyaknya anakmu terkadang kau terhambat untuk berada di depan. Pernah kau begitu sedih karena tidak dapat menghadiri ta’lim yang diisi DR. Samiun Jazuli. Terlintas di dalam pikiranku, kelak aku akan membiayaimu untuk melanjutkan kuliah S2 agar kau bahagia.
Kau juga begitu bersemangat mengikuti tatsqif (Kajian Tsaqofah Islam) yang diadakan oleh PKS. Ketika ada ujian tatsqif, kau berusaha mengerjakan soal-soal tanpa berusaha menyontek. Tiba-tiba kau mendengar peserta ujian yang lain di sebelahmu saling berbisik tentang jawaban soal yang engkau tidak bisa mengerjakannya. Kamu pun menulis jawaban tersebut. Sepulang ke rumah engkau begitu menyesal dan gelisah. Engkau merasa berbuat curang karena mengerjakan soal dari mendengar percakapan orang lain. “Gimana nih Mas, aku sudah nyontek?” tanyamu. Aku jawab sambil bercanda, "Telpon dosennya, minta dicoret jawabanmu yang dapat dari hasil mendengar itu”. Ternyata engkau benar-benar menelpon ustadz Fahrur agar jawaban atas soal tersebut dicoret saja. Itu yang sering kulihat darimu, begitu takut akan dosa-dosamu. Aku bangga padamu istriku.
Istriku, hal yang sering membuatku bergetar adalah di saat melihat engkau sholat. Begitu khusyuk dan menjaga adab. Tidak pernah aku melihatmu terburu-buru di dalam sholat. Aku menikmati melihat caramu menghadap Tuhanmu.Selelah apapun dirimu kamu selalu berusaha membaca Quran satu juz perhari. Engkau juga tidak ingin meninggalkan dzikir harianmu. Haru rasanya saat-saat melihatmu tertidur dengan Quran masih berada di tanganmu.
Sering aku berangan-angan aku akan membahagiakanmu kelak saat anak-anak sudah besar. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke kota wisata. Aku akan membelikanmu perhiasan walaupun sekedarnya. Karaktermu yang tidak pernah meminta memang membuatku lalai memperhatikan kebutuhanmu. Bahkan motor pun tidak pernah kubelikan. Motor butut yang kau pakai adalah motor yang memang telah kau bawa dan kau miliki sejak masih gadis.
Aku yakin bahwa kebersihan hatimulah yang memancarkan aura persahabatan dari wajahmu. Banyak yang mengatakan kepadaku, ”Beliau adalah tempat saya menyampaikan curhat.” Terkadang kau terlambat pulang dari mengisi pengajian, ketika ku tanya kenapa terlambat, kau menjawab, “Kasihan ada yang pingin curhat, jadi dengerin dia dulu. Semoga Allah segera kasih dia jalan keluar.” Saya yakin mereka curhat kepadamu karena mereka merasakan kebaikanmu.
Kamu sering memujiku, “Suami yang pintar”. Kulihat, kamulah yang lebih pintar mengaplikasikan teori ke dalam praktek dunia nyata. Sebenarnya aku banyak belajar darimu. Kamu pintar sekali memulyakan orang lain. Kamu sering memberikan sesuatu kepada tetangga-tetangga kita. Terkadang aku malu karena yang kau berikan adalah hal-hal yang sederhana. “Malu ah ngasih ke tetangga segitu. Nggak level buat mereka.” Ternyata sikap perhatianmu kepada tetangga inilah yang membuat mereka mencintaimu.
Kamu mengatakan kepada pembantu kita, “Kumpulkan teman-teman yang lain, nanti saya yang membimbing bacaan Qurannya.” Dengan sabar kamu melatih mereka membaca Quran. Kau pun membelikan peralatan memasak sebagai hadiah kepada mereka yang lulus dan melanjutkan bacaan ke jilid berikutnya. Pernah kau melihat salah seorang diantara mereka sedang berlatih mandiri di rumahnya. Kau berkata, "Bahagianya aku Bi melihat mereka mau melatih bacaan secara mandiri.” Sampai terucap dari mulut pembantu kita, “Bu, saya ini mendapat hidayah dari tangan Ibu lho.”
Terkadang aku lupa untuk memberikan uang belanja, ketika kutanya engkau menjawab,”Aku pakai uang daganganku”. Kau kadang membelikanku baju sebagai hadiah ulang tahunku. Aku memang seorang yang berprinsip minimalis, terkadang jika ada barang yang menurutmu harus dibeli, aku mengatakan bahwa itu tidak perlu dibeli, kita da’i tidak usah terlalu mengejar kesempurnaan. Seperti biasa kau pun mengalah dan berkata, "Ya sudah pake uang aku aja.”
Ketika engkau mengalami pendarahan saat melahirkan anak kita yang ke delapan, engkau mengalami step. Sungguh hancur hatiku melihatmu menderita. Ketika dokter mengatakan butuh tiga kantung darah, aku segera keluar berlari menuju PMI tanpa sempat mengambil alas kaki. Aku sangat takut kehilangmu. Ketika diberitahu bahwa putra kita telah meninggal, aku sudah tidak peduli lagi, “Tolong selamatkan istri saya dok.” Setelah dioperasi kau sempat tersadar, aku tidak tega untuk mengatakan bahwa putra kita telah meninggal. Aku tidak ingin kau tahu bahwa kandungan yang sangat kau cintai dan sering kau elus-elus dengan penuh cinta telah mendahuluimu.
Dokter mengatakan bahwa kondisi sangat kritis, biasanya kondisi ini berakhir dengan kematian. Dengan kesedihan yang terus mengelayuti aku berkata, ”Umi tidak usah ngomong apa-apa, semua abi yang urus, Umi nyebut Allah saja.” Aku berharap seandainya Allah memanggilmu, maka ucapan terakhirmu adalah Allah. Walau tidak ada suara yang kudengar, kulihat mulutmu menyebut nama Allah dua kali. Saat itu aku bernazar, aku punbertawashul dengan segala amalku agar Allah memberikan kesempatan agar engkau masih bisa bersamaku. Dan ternyata anak-anak kita bercerita bahwa saat itu di rumah mereka juga bernazar agar ibu mereka selamat.
Dengan sisa harapan yang tersisa di hatiku, aku berusaha membangkitkan semangatmu, ”Cepat sembuh, anak-anak kita menunggumu di rumah.” Engkau mengangguk-angguk. Ternyata Allah SWT sangat mencintaimu. Allah SWT ingin memberimu karunia syahid. Kematianmu karena melahirkan putra kita menunjukkan bahwa Allah ingin memberikan yang terbaik untukmu. Sebagaimana Rasulullah mengatakan bahwa wanita yang mati karena melahirkan termasuk orang-orang yang mati syahid.
Seorang shahabatmu, Ustadzah Mahmudah, menelponku, "Mba Robi itu kalau saya perhatikan sangat khusyuk kalau memimpin doa atau mengaminkan doa. Kalau berdoa, saat kalimat wa amitha 'ala syahaadati fii sabiilik (matikanlah jiwa kami dalam syahid di jalan-Mu) sering saya lihat mba Robi meneteskan air mata. Ternyata kita memang tidak boleh meremehkan kekuatan doa.”
Pak Emil tetangga kita berkata, ”Saya tidak pernah berinteraksi dengan almarhumah. Hanya istri saya yang bergaul dengannya. Tapi kepergiannya membuat saya merasa kehilangan sampai dua hari”. Mungkin dia shock karena melihat istrinya terguncang.
Ustadzah Sujarwati berkata, "Saya mengisi pengajian dekat SMPN 10, mereka bercerita bahwa almarhumahustadzah Robiah yang merintis majelis ta’lim ini. Mereka semua kemudian menangis karena teringat istri sampeyan.” Banyak yang terkejut dengan kepergianmu. Ada yang baru mendengar kematianmu, datang ke rumah untuk kemudian menangis karena kehilanganmu.
Hari kematianmu menjadi saksi atas kesholihanmu. Begitu banyak yang datang untuk memberikan penghormatan kepadamu. Ustadz Muslim mengatakan, "Sahabat-sahabatnya dari pesantren Al Amin, Madura sudah siap-siap mau beli tiket untuk ke Balikpapan, tapi mendengar jenazah akan di bawa ke Samarinda mereka tidak jadi datang.” Beberapa ustadz datang dari Samarinda. Bahkan Ustadz Masykur Sarmian, Ketua DPW PKS Kaltim pun datang dari Samarinda dan menjadi imam yang mensholatimu. Aku pun melihat ustadz Cahyadi Takariawan, penulis buku dari Yogya, hadir di masjid itu. Mungkin Allah sengaja mengutus orang-orang sholih tersebut untuk mensholatimu dan menyempurnakan pahalamu. Motor-motor memenuhi jalan masuk ke komplek kita. Seseorang dengan heran mengatakan bahwa kemarin kepala kantor meninggal di komplek ini yang datang nggak sebanyak ini. Ini cuma ibu rumah tangga kok banyak banget yang datang.
Sesudah disholatkan di masjid Balikpapan, engkaupun dibawa ke Samarinda. Sampai di masjid Ar Raudhah, Aku melihat KH. Mushlihuddin, LC Koordinator Qiroati untuk Kalimantan hadir di sana. Kamu sering berkata bahwa kamu sudah menganggap beliau, guru mu membaca Quran, seperti ayah sendiri. Kecintaanmu kepada Quran membuat kamu mencintai beliau yang selalu komitmen berjuang menegakkan Al Quran di muka bumi. Sering kamu mengatakan bahwa kamu kangen dengan gurumu, ustadz Mushlih. Segera aku meminta beliau untuk menjadi imam sholat jenazah untukmu.
Kakakmu, Ibu Mursyidah berkata, ”Kepergiannya persis seperti ayahnya, KH. Abdul Wahab Syahrani. Disholatkan dari masjid ke masjid.” Sebelum meninggal beliau berwashiat untuk dikuburkan di Kotabangun. Karena washiat itu beliau disholatkan di tiga masjid di tiga kota oleh murid-murid beliau. Pertama disholatkan di Islamic Centre Samarinda, kemudian disambut oleh Bupati Kutai Kartanegara (Beliau adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Kab. Kukar) dan disholatkan di masjid agung Tenggarong, kemudian disholatkan kembali oleh murid-murid beliau di masjid Kotabangun.
Dengan lelehan airmata aku ikut memandikanmu, mengangkatmu, memasukanmu ke liang lahat. Seseorang berkata, "Antum duduk saja biar yang lain saja.” Tidak, Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Aku sudah kehilangan kesempatan membahagiakanmu di dunia. Aku sudah kehilangan kesempatan membalas dengan baik pelayananmu kepadaku. Biarlah hari ini aku melayanimu walaupun sekedar mengurus jasadmu.
Terimakasih istriku, selama hidupmu kau selalu berusaha tidak merepotkanku. Ketika aku ke bengkel untuk menambal ban, aku mengabarkan kematianmu dan memohon doa untukmu. Tukang tambal ban, mendoakannya dan berkata, "Istri sampeyan sering ke sini sendiri, menuntun sepeda motor untuk menambal ban, atau kadang ganti ban motor”. Sekuat tenaga ku tahan airmataku. Aku tahu sebenarnya itu adalah tugasku. Kubayangkan adakah wanita lain yang mau menuntun motor ke bengkel untuk menambal ban karena tidak ingin merepotkan suaminya.
Mungkin kamu saat ini telah tersenyum bahagia bercanda bersama Abdullah, putra kita. Mungkin kamu sudah bertemu dengan ayah ibumu yang sangat kamu cintai. Walaupun aku betul-betul kehilanganmu, aku tahu bahwa karunia syahid yang Allah SWT berikan kepadamu adalah yang terbaik untukmu.
Istriku, aku menulis ini untuk menumpahkan rindu yang bergejolak di hatiku. Aku juga berharap agar orang yang membacanya mau meringankan lidahnya untuk mendoakanmu. Aku berharap tulisan ini dapat membalas jasamu kepadaku. Sungguh betapa lambatnya hari-hari berlalu tanpamu. Ingin rasanya aku segera masuk ke surga agar dapat bertemu kembali denganmu. Selamat jalan Khadijahku.....


Balikpapan, hari ke sembilan belas tanpamu di sisiku

Yang bersyukur mendapatkanmu

Suamimu,
Abu Muhammad




_____________________
*Cahyadi Takariawan: Kepergian Dua Ummahat Senior Itu Mengejutkanku  

Sumber: http://www.pkspiyungan.org/2013/01/selamat-jalan-istriku-engkau-layak-atas.html?m=1

Sunday, April 20

Ausini ya ukhti

Bila kita meminta nasihat 
"Ausini ya ukhti"
Harapkanlah nasihat yang mendekatkan redha Allah dari kata-kata manis yang memenangkan nafsu amarah mahupun lagha;

"Jangan kamu marah"
Tak bermakna perbuatan yang menyebabkan kita marah tu benar, tapi perbuatan tidak marah tu yang mendatangkan kebaikan pada KITA;

"Jagalah masa kosongmu. Bersihkan diri dari dosa, lagha dan maksiat"
Itukan pesan Allah dalam AlQuran dan Hadis. 

Nasihat tu sendiri adalah untuk mendatangkan kebaikan bukan kecelakaan. Jadi mintalah nasihat untuk dimudahkan jalan kepada redha Allah; kebaikan dunia dan akhirat. Bukan meringankan jalan kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.

***********

"Dan ketahuilah olehmu bahawa di kalanganmu ada Rasulullah, kalau ia menuruti (kemauan)mu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikannu cinta kepada keimanan dan MENJADIKAN IMAN ITU INDAH DALAM HATIMU serta menjadikanmu BENCI KEPADA KEKUFURAN, KEFASIKAN DAN KEDURHAKAAN; mereka itulah orang yang mengikuti jalan yang lurus" 
(AlHujurat 49:7)

Al-Kufur (Kekufuran)
Al-Fusuk (Kefasikan) = dosa2 besar
Al-'Isy yan (Kedurhakaan) = kemaksiatan

***********

Rasulullah tiada tapi Al-Quran dan Hadis ada. Kalau pesanan itu mengikut AlQuran dan Hadis, apakah yang akan menghalang hati kita untuk terima? 

*degil?*

*jawapan pada hati sendiri*

*************

Inginkanlah jalan pulang kepada Allah.
Perbaiki iman dan amal kita. 

"Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu bahawa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa'. MAKA BARANGSIAPA YANG MENGHARAPKAN PERTEMUAN DENGAN TUHANNYA HENDAKLAH DIA MENGERJAKAN KEBAIKAN DAN JANGANLAH DIA MEMPERSEKUTUKAN DENGAN SESUATU PUN DALAM BERIBADAH KEPADA TUHANNYA" 
(Al-Kahfi 18:110)

Ambillah jalan pulang kepada Allah dan baikilah iman dan amal. Orang lain, kita hanya mampu nasihatkan. Yang penting nasihatkan. Dia ikut atau tidak, itu perkara kedua. 

*******
*sekian bebelan random di pagi hari sempena drama pagihari bersama kawanbaikku*

Friday, April 18

Entertainment for the heart

Bismillah

I just attended a charity dinner with my housemates. We had performances from Kareem Salama, Saif Adam and Native Deen; and great food as well. 

Subhanallah the event was great. Alhamdulillah I enjoyed it and pleased ti attended it. But whenever I attended such event, I really hope that the journey and time I have made for it bring values to my afterlife. Was is just mere entertainment? Oh Allah, I hope not. *please*

Subhanallah, one of the songs reminded me of the Haramain. The umrah and Hajj. I saw the performers were really into their songs and musics. I was pleased to see them so happy. I was glad to see such a joy they have for their selves and how wonderful they have tried to make others happy as well. 

Anyway the purpose of the dinner was to raise funds to build a school for girls in Pakistan. Do I want to be part of it? Do you want to be part of it? It's just £25 per month to sponsor a girl for an education a year. :))) 

Thursday, April 17

Musim bunga tarbiyah

From my experiences, spring will be one of the great times for people to reflect upon our heart and our journey to meet death.. 

The effect will be more humangous to most heart because this is the one of the times for us to decide by OURSELF how do we want to fill OUR SPARE TIMES; 

Yeah.. 
The time that we think is ours;
The time that we think is given for us to relax and enjoy and chill out; are we going to opt for a humble yet great journey to know our Lord and ourself ?

(note the word humble please because we will not be strong enough to face the journey if the heart is filled with the feeling of 'i'm good enough') 

Going back to the journey of reflecting upon our heart and meeting death;

It is a journey that I believe will only be appreciated by the traveller. Those who just watch, wait and see will not understand.

Because to start the journey, you have to ambrace the feeling of wanting to return to Allah in the best state, to be humbly submissive and then mould our lives later on according to His teachings..

#almulk2ahsanuamala
#alhadid16takhsya_a_quluubuhum #albaqarah138sibghatallah

Once we have humbly started; we will meet a point where we will say to the One Lord who has provides for us:

"Oh Allah, how much have I wasted my time, energy and life for things that  didn't benefit my iman and hereafter"

"Oh Allah, how much have I spent the time being submissive to the wonders of dunya.. Feeling that those entertainments and shoppings would make me happy"
#alhadid20 #aliimran14
"Oh Allah, I have really left the Quran far away from my life.. Far behind"
#hijranmahjura #furqan30
"Oh Allah, thank you for allowing me to see the light before the time that no repentance will be beneficial comes"
#naba40

*******
Anyways.. The reminders are always there. In the horizon and in ourselves #fushilat30_fil_afaaq_wadfi_anfusihim He has made it clear in a simple statement. The signs of the Truth are everywhere. 

#asshams7to10

"And [by] the soul and He who proportioned it (7) And inspired it [with discernment of] its wickedness and its righteousness, (8) He has succeeded who purifies it, (9) And he has failed who instills it [with corruption].(10)"

The longgggg spare time will come again.. SUMMER will be the next one. Shall we wait for it to come or prepare for it? 
*Surely, death comes anytime*

*******
'May Allah make it easy, our journey to meet Him'

Wednesday, April 16

Kurang arif untuk menafsir

Ujian apakah yang Allah ciptakan ini? Bergetar hati setiap kali cuitan-cuitan itu datang. Sukar untuk ditafsirkan Ya Rabbi!!

Wednesday, March 26

The Days of Overwhelming News

HUKUMAN MATI PADA 529 PENYOKONG LEGITIMASI MESIR 
Siapa ingin yakin bahawa kemenangan Islam itu sudah semakin hampir bila mana kita sudah semakin tersepit?
******************************************
Surat dari Dr Muhammad Badie' dari dalam tahanan yang telah disebarkan melalui page rasmi beliau :
"Tuhanmu telah berkehendak untuk mengumpulkan orang-orang yang benar dalam satu kelompok, dan orang-orang yang batil dalam satu kelompok lain, sebagaimana tuhan telah mengumpulkan Musa a.s dan kebenaran bersama pengikut-pengikutnya, seperti Firaun dan kebatilan bersama-sama pengikutnya sehingga apabila tidak tinggal apa-apa pilihan atau cara dan jalan dihadapan para pengikut kebenaran melainkan hamparan laut yang luas dan para tentera dibelakang mereka, maka kemenangan dari Allah akan turun menyelamatkan kebenaran dan para pengikutnya sekaligus menghancurbinasakan kebatilan dan pengikut-pengikutnya.
Yakinlah bahawa kemenangan itu telah hampir dan pengikut-pengikut kebatilan masih menjunjung kebatilan mereka, sedang pengikut-pengikut kebenaran menjunjung syariat mereka untuk membezakan kedua kelompok tadi, maka Allah akan memberi kemenangan kepada kebenaran dan pengikut-pengikutnya, dan menenggelamkan kebatilan berserta pengikut-pengikutnya"
Dr Muhammad Badie'
Mursyidul Am Ikhwan Muslimin
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=286860034805600&set=a.202146149943656.1073741828.202121649946106&type=1
MH370 ENDED IN THE INDIAN OCEAN
239 passengers. Went missing. Mysterious and full of speculations. Worries and sadness. The dark days. 
Now the puzzle seemingly, has been solved by the Inmarsat sattelite information? Has it? 
Allahua'lam. By intellectual argument, it has. But there are still areas of dispute. In  reality, no concrete evidence has been brought forward.
PRIOR TO THESE TWO OVERWHELMING NEWS
Malaysia and the world have received a surprising news of the DS Anwar's hearing. 
## So many uncertainties, confusion and disappointments. 



Thursday, February 27

Sentuhan-sentuhan Tuhanku

MUSIM SYAHADAH

Sekarang ni musim SH di tanah UK. Aku rasa di kebanyakan tempat pun, di mana sahaja yang putik-putik tarbiyah sedang tumbuh. Semakin aku meniti jalan dakwah dan tarbiyah ni, semakin aku sayu mempelajari hakikat hidayah itu milik Tuhan. Betapa kefahaman dan keimanan itu, berbeza maqamnya. Mengimani hakikat hidayah itu milik Tuhan.. subhanallah, suatu pengalaman yang benar-benar menundukkan. 
Sejarah menunjukkan walau seorang Nabi, walau seorang Rasul, kamu tidak mungkin akan mampu mengubah hati seorang manusia untuk beriman pada Tuhan dengan sebenar-benar keimanan. Tidak kiralah dia adalah Nuh a.s yang tabah ataupun Muhammad S.A.W yang al-Amin. Tiada yang dapat membuka hati seorang manusia, melainkan Tuhan Rabbul Alamin. 

Tahun berganti tahun, ALLAH mengajarkan aku makna ini. Setiap tahun, perasaannya berbeza. Pedih-sukar-risau... kini berubah menjadi kelat dan berbuah ketundukan hati. Tuhan ingin menguji kejujurankah? Tuhan ingin menguji ketabahankah? Atau Tuhan ingin mengajar tawakkalkah? 

Ana la a'lam. Aku tiada tahu. Tapi hidup hampir lima tahun tarbiyah, aku merasakan aku masih belum kuat. Tapi aku juga merasakan Allah itu menguatkan. 

Setiap berlalunya penggal, aku mengharapkan adanya penyambung rantai dakwah di tanah tarbiyahku. Tapi Subhanallah, Tuhan benar belum mengizinkan. Allahual'lam, andai ini adalah jalannya membina kesabaran dan ketabahan sebagaimana dibakar dan ditanaknya imann para sahabat... aku akur ya Tuhan. Memang jalannya amat menguji dan panjang. 


SH. Ya, itu musimnya di UK sekarang ni. Musim menyedarkan manusia dengan suatu lagi kebenaran. Penyaksian ke atas kebenaran. Penyaksian yang benar, atas kebenaran yang benar

PERMULAAN KEPADA PENYAKSIAN ...

Ia dimulakan dengan mensyukuri segala nikmat. Kesyukuran, yang seharusnya menaikkan segala keimanan kepada Tuhan. Melembutkan hati untuk percaya pada kasih dan rahmat ALLAH dalam kehidupan kita. Untuk kita merasa bertapa besarnya keuntungan seorang hamba yang mendapat nikmat hidayah. Betapa manis dan beruntungnya nikmat mendapat islam. Nikmat melafazkan "Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan yang layak disembah melainkan ALLAH dan aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad SAW itu pesuruh ALLAH".  Keimanan kepada ALLAH itu tidak lain benar-benar pembuka rahmat ALLAH, bersamanya datang pengampunan, bersama datang keselamatan dari Neraka yang mengerikan. Itulah seruan Nuh pada kaumnya (71:3,4)
 أَنِ اعْبُدُوا اللَّـهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ
 "Iaitu sembahlah kamu akan Allah dan bertaqwalah kepadaNya, serta taatlah kamu kepadaku; 
 يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ أَجَلَ اللَّـهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ ۖ لَوْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Supaya Allah mengampunkan bagi kamu sebahagian dari dosa-dosa kamu, dan memberi kamu hidup (dengan tidak terkena azab) hingga ke suatu masa yang tertentu; (maka segeralah beribadat dan bertaqwa) kerana sesungguhnya ajal (yang telah ditetapkan) Allah, apabila sampai masanya, tidak dapat ditangguhkan; kalaulah kamu mengetahui (hakikat ini tentulah kamu segera beriman)".
Tidakkah hati kita ingin menangis? Betapa sayangnya Tuhan yang telah menciptakan kita dengan penuh kebangaanNya..Dia jugalah yang memberikah kita petunjuk kepada keselamatan. Suatu nikmat yang tiada gantian. 

Nikmat yang membuka pintu taubat dan manjadi langkah pertama kepada tawaran ALLAH untuk kita mendapat Syurga. Suatu daerah kekal di akhirat yang penuh dengan keindahan dan kesempurnaan. Kesempurnaan pada fizikalnya yang mana Tuhan ceritakan padanya ada mahligai-mahligai, sungai-sungai yang mengalir, buah-buahan dan pertama-permata. Kesempurnaan pada perasaannya. Di dalammya tiada kebenciaan. Di dalamnya tiada hasad dan dendam. Sempurna. Di dalamnya tiada hati dan kata-kata maksiat apatah lagi pandangan dan perbuatan maksiat. Itulah indahnya Syurga. Mengetahui sifatnya dan ciri-cirinya, akan melahirkan kecintaan dan obsesi yang besar pada hamba yang percaya bahawa janji Tuhan itu benar dan kesempurnaan itu pasti hebat dan benar. 

Tiada hati yang mensyukuri nikmat iman dan islam serta benar-benar menginginkan redha dan Syurga ALLAH, akan mendustakan atau menolak hakikat yang akan diceritakan nanti. Tiada! Kerana setiap hujahnya juga datang dari Tuhan yang menceritakan kenikmatan iman dan islam tu. Kerana setiap hujahnya Syahadah al-Haq ini datang dari Tuhan yang menjanjikan Syurga ini dengan haq. 

Berbekalkan akur pada ALLAH dengan segala nikmat ciptaanNya, berbekalkan keinginan untuk meraih SyurgaNya, kita dibentangkan dengan suatu hakikat. Hakikat yang mungkin biasa didengari oleh banyak telinga tapi tak banyak dihayati dan diterima oleh kebanyakan hati. 

Islam itu suatu kemuliaan. Islam itu suatu kebanggaan. 

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Dan janganlah kamu merasa lemah (dalam perjuangan mempertahan dan menegakkan Islam), dan janganlah kamu berdukacita (terhadap apa yang akan menimpa kamu), padahal kamulah orang-orang yang tertinggi (mengatasi musuh dengan mencapai kemenangan) jika kamu orang-orang yang (sungguh-sungguh) beriman. (3:139)

Tapi bersamanya datang suatu tanggungjawab yang besar. Besar yang tak tertanggung walau oleh gunung yang kelihatannya kukuh dan teguh. Gunung yang kita tahu besar dan gagahnya ia telah menjadikan dia pasak pada plat-plat bumi. Besarnya Subhanallah, kemuliaan dan tanggungjawab Abid dan Khalifah. 

 APA ITU SYAHADAH? APA ITU PENYAKSIAN? 

Kalimah syahadah, kalimah penyaksian. 
"Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan yang layak disembah melainkan ALLAH dan aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad SAW itu pesuruh ALLAH".
Penyaksian itu konsepnya sama dengan penyaksian di mahkamah. "AKU BERSAKSI". 

Ia bermaksud, aku tahu dan aku hendak kamu tahu bahawa aku tahu dan ini adalah kebenarannya! Tiada lain, inilah ia!
Kiranya, ia bukan sekadar lafaz kata. Ia pembenaran yang kukuh sepenuh jiwa. Kalau dalam mahkamah, kita belum lagi menjadi saksi, kalau kita belum tampil menyatakan kebenarannya. Tugas kita adalah menjadi saksi di dunia ni, sebelum menjadi saksi di akhirat kelak. Sebab di akhirat kelak, kita tidak akan menjadi saksi kepada diri kita, tapi orang lain yang akan menjadi saksi kepada kita. Saksi samada kita sudah memenuhi hak kesaksian kita di dunia atau pun tidak. Kita akan menjadi saksi kepada orang lain. Saksi bahawa kebenaran Islam ini telah sampai kepada mereka. Saksi samada mereka telah memenuhi hak kesaksian mereka atau tidak. 

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّـهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّـهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّـهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
 Dan demikianlah (sebagaimana Kami telah memimpin kamu ke jalan yang lurus), Kami jadikan kamu (wahai umat Muhammad) satu umat yang pilihan lagi adil, supaya kamu layak menjadi orang yang memberi keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah) dan Rasulullah (Muhammad) pula akan menjadi orang yang menerangkan kebenaran perbuatan kamu. (Sebenarnya kiblat kamu ialah Kaabah) dan tiadalah Kami jadikan kiblat yang engkau mengadapnya dahulu itu (wahai Muhammad), melainkan untuk menjadi ujian bagi melahirkan pengetahuan Kami tentang siapakah yang benar-benar mengikut Rasul serta membenarkannya dan siapa pula yang berpaling tadah (berbalik kepada kekufurannya) dan sesungguhnya (soal peralihan arah kiblat) itu adalah amat berat (untuk diterima) kecuali kepada orang-orang yang telah diberikan Allah petunjuk hidayah dan Allah tidak akan menghilangkan (bukti) iman kamu. Sesungguhnya Allah Amat melimpah belas kasihan dan rahmatNya kepada orang-orang (yang beriman) (2:142)

وَجَاهِدُوا فِي اللَّـهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَـٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّـهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya Dia lah yang memilih kamu (untuk mengerjakan suruhan ugamanya); dan Ia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara ugama, ugama bapa kamu Ibrahim. Ia menamakan kamu: "orang-orang Islam" semenjak dahulu dan di dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasulullah (Muhammad) menjadi saksi yang menerangkan kebenaran perbuatan kamu, dan supaya kamu pula layak menjadi orang-orang yang memberi keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah). Oleh itu, dirikanlah sembahyang, dan berilah zakat, serta berpegang teguhlah kamu kepada Allah! Dia lah Pelindung kamu. Maka (Allah yang demikian sifatNya) Dia lah sahaja sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Pemberi pertolongan. (22:78)
Penyaksian ini juga bukan sekadar solat dan puasa. Tapi ia adalah suatu tanggungjawab supaya manusia yang lain sudah tiada hujah lain. Dan tiada seorang pun akan terlepas dari penyaksian Mahkamah Akhirat ni. 

TIADA SATU PUN AKAN TERLEPAS DARI KESAKSIAN INI!
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَـٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
Dan (ingatkanlah tentang) hari Kami bangkitkan dalam kalangan tiap-tiap umat, seorang saksi terhadap mereka, dari golongan mereka sendiri; dan Kami datangkanmu (wahai Muhammad) untuk menjadi saksi terhadap mereka ini (umatmu); dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran menjelaskan tiap-tiap sesuatu dan menjadi hidayah petunjuk, serta membawa rahmat dan berita yang mengembirakan, bagi orang-orang Islam. (16:88)
Mungkin ketakutan kita pada beratnya tanggungjawab ini akan menjadikan kita orang yang beralasan bahawa menyampaikan kebenaran Islam pada manusia lain itu bukan tanggungjawab kita. Bukan. Atau mungkin keraguan kita pada kemampuan kita untuk menyembah ALLAH dengan sepenuh hati dan membersihkan kehidupan kita dari segala jahiliyyah itu menjadikan kita ragu-ragu untuk mengambil jalan perubahan. Ragu-ragu untuk menjadi benar pada ALLAH. Tapi ALLAH sudah katakan, Dia tidak akan membebani kita dengan sesuatu yang tidak mampu kita pikul. Bersangka baiklah pada ALLAH, kerana Dia hanya menyuruh kita membersihkan diri kita agar kita mendapat keampunanNya dan SyurgaNya. Hidayah pada manusia lain, itu pilihan ALLAH. Tugas ALLAH. 

BERATNYA TUNTUTAN INI

Ya, tuntutan ini berat. Tapi kekuatan untuk menjalankannya bukan datang dari kita. Ia datang dari ALLAH,  kita hanya perlu jujur melaksanakannya dengan penuh tunduk dan iman pada ALLAH. Tiada yang akan terlepas. Maknya, tiada jalan keluar lain melainkan untuk menerimanya. 

قُلْ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ اللَّـهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَدًا
Katakanlah lagi; "Sesungguhnya aku, tidak sekali-kali akan dapat diberi perlindungan oleh sesiapapun dari (azab) Allah (jika aku menderhaka kepadaNya), dan aku tidak sekali-kali akan mendapat tempat perlindungan selain daripadaNya (72:22)

إِلَّا بَلَاغًا مِّنَ اللَّـهِ وَرِسَالَاتِهِ ۚ وَمَن يَعْصِ اللَّـهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
(kecuali) hanya menyampaikan (wahyu) dari Allah dan perintah-perintahNya (yang ditugaskan kepadaku menyampaikannya); dan sesiapa yang menderhaka kepada Allah dan ingkarkan bawaan RasulNya, maka sesungguhnya disediakan baginya neraka Jahannam; kekalah mereka di dalamnya selama-lamanya.".
APA YANG MERINGANKAN HATI MENERIMA BERAT TUNTUTAN INI? 

Ia adalah hati kita sendiri dan kebenaran janji kita pada ALLAH yang kita sudah saksikan rahmat dan kasihnya pada awal-awal tadi. Juga pada benarnya hati kita menyaksikan kebesaran kuasaNya. Kebenaran janjiNya. Kegerunan ancaman-anacamanNya. 

Kalau kita inginkan kemuliaan ini, kita akan jujurkan diri kita pada syahadah ini. Kalau kita benar percayakan kekuasaanya, kita akan yakin Dia akan menguatkan kita. 

Hanya yang ingin menjadi hamba rabbani kepada Tuhan Rabbul 'alamin, dia akan mengucapkan Ya Rabbi, ampunkan aku dan kuatkan aku. Ingatlah, Musa a.s juga menerima tanggungjawab syahadah ini dengan segala kekurangan dan kerisauan. Apatah lagi kita. Perhatikan jawapan Tuhan kita pada Nabi Musa, 

"Dan demi sesungguhnya! Kami telahpun mengurniakan kepadamu berbagai nikmat pada satu masa yang lain sebelum ini."
Bukankah ALLAH telah memberikan segala macam kenikmatan sebelum ini? Bukankah Dia yang telah menjaga kita sejak dari dalam perut ibu kita? Malah sebelum itu lagi... Mana mungkin untuk menguatkan kita Dia akan gagal. 
 إِنَّنِي أَنَا اللَّـهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي ﴿١٤ إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ ﴿١٥ فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَن لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَىٰ ﴿١٦ وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ﴿١٧ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ ﴿١٨ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ ﴿١٩ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ ﴿٢٠ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ﴿٢١ وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَىٰ ﴿٢٢ لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى ﴿٢٣ اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ ﴿٢٤ قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي ﴿٢٥ وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي﴿٢٦ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي ﴿٢٧ يَفْقَهُوا قَوْلِي ﴿٢٨وَاجْعَل لِّي وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِي ﴿٢٩ هَارُونَ أَخِي ﴿٣٠ اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي ﴿٣١ وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي ﴿٣٢ كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا ﴿٣٣وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا ﴿٣٤ إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرًا ﴿٣٥ قَالَ قَدْ أُوتِيتَ سُؤْلَكَ يَا مُوسَىٰ ﴿٣٦ وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً أُخْرَىٰ ﴿٣٧
"Sesungguhnya Akulah Allah; tiada tuhan melainkan Aku; oleh itu, sembahlah akan Daku, dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati Daku. (14)"Sesungguhnya hari kiamat itu tetap akan datang - yang Aku sengaja sembunyikan masa datangnya - supaya tiap-tiap diri dibalas akan apa yang ia usahakan. (15) "Maka janganlah engkau dihalangi daripada mempercayainya oleh orang yang tidak beriman kepadanya serta ia menurut hawa nafsunya; kerana dengan itu engkau akan binasa. (16) "Dan apa (bendanya) yang di tangan kananmu itu wahai Musa?" (17) Nabi Musa menjawab: "Ini ialah tongkatku; aku bertekan atasnya semasa, berjalan, dan aku memukul dengannya daun-daun kayu supaya gugur kepada kambing-kambingku, dan ada lagi lain-lain keperluanku pada tongkat itu". (18) Allah Taala berfirman: "Campakkanlah tongkatmu itu wahai Musa!"(19) Lalu ia mencampakkannya, maka tiba-tiba tongkatnya itu menjadi seekor ular yang bergerak menjalar. (20) Allah berfirman: "Tangkaplah akan dia, dan janganlah engkau takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya yang asal. (21)"Dan kepitlah tanganmu di celah lambungmu; nescaya keluarlah ia putih bersinar-sinar dengan tidak ada cacat; sebagai satu mukjizat yang lain. (22) "(Berlakunya yang demikian itu) kerana Kami hendak memperlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar. (23) "Pergilah kepada Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas". (24) Nabi Musa berdoa dengan berkata: "Wahai Tuhanku, lapangkanlah bagiku, dadaku;(25) "Dan mudahkanlah bagiku, tugasku; (26) "Dan lepaskanlah simpulan dari lidahku, (27) "Supaya mereka faham perkataanku; (28) "Dan jadikanlah bagiku, seorang penyokong dari keluargaku. (29) "Iaitu Harun saudaraku;(30) "Kuatkanlah dengan sokongannya, pendirianku, (31)"Dan jadikanlah dia turut campur bertanggungjawab dalam urusanku, (32) "Supaya kami sentiasa beribadat dan memujiMu, (33) "Dan (supaya) kami sentiasa menyebut dan mengingatiMu; (34) "Sesungguhnya Engkau adalah sedia melihat dan mengetahui hal ehwal kami". (35) Allah berfirman: "Sesungguhnya telah diberikan kepadamu apa yang engkau pohonkan itu, wahai Musa! (36) "Dan demi sesungguhnya! Kami telahpun mengurniakan kepadamu berbagai nikmat pada satu masa yang lain sebelum ini. (37) (20: 14-37)

Kalau kita yakin pada Dia, Dia akan mudahkan jalannya untuk kita. Selagi mana kita menjadi orang-orang yang menerima peringatan-peringatanNya. 

فَمَن يُرِدِ اللَّـهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّـهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
Maka sesiapa yang Allah kehendaki untuk memberi hidayah petunjuk kepadanya nescaya Ia melapangkan dadanya (membuka hatinya) untuk menerima Islam; dan sesiapa yang Allah kehendaki untuk menyesatkannya, nescaya Ia menjadikan dadanya sesak sempit sesempit-sempitnya, seolah-olah ia sedang mendaki naik ke langit (dengan susah payahnya). Demikianlah Allah menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak beriman. (6:125)
وَهَـٰذَا صِرَاطُ رَبِّكَ مُسْتَقِيمًا ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ 
Dan inilah jalan Tuhanmu (ugama Islam) yang betul lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat keterangan (Kami) satu persatu, bagi kaum yang mahu beringat - insaf (6:126)
لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِندَ رَبِّهِمْ ۖ وَهُوَ وَلِيُّهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 
Bagi merekalah Syurga Darus-Salaam (tempat tinggal yang aman sejahtera) di sisi Tuhan mereka, dan Dia lah Penolong mereka, disebabkan amal-amal (yang baik) yang mereka telah kerjakan. (6:127)