Thursday, December 31

kematian..pengajaran buat y hidup

bismillahirrahmanirrahim...

minggu ni, ak mendpt berita ttg kematian ibu kpd seorg senior y ak x kenal tp bercdg utk dtg ke rumahku sambil melawat leeds..malang skali..mungkin juga bukan jodoh kami utk bertemu.senior tu terus pulang ke m'sia slps tahu berita kematian ibunya. ibu kesayangan y merupakan teman berbualnya..malah sahabatnya menceritakan betapa dia akrab dan gemar berbicara dgn ibunya sehinggakan byk wang y dilaburkan utk menelefon rumah di m'sia... subhanallah..tak dpt aku bygkn bagaimana nasibku..bagaimana perasaanku..bagaimana reaksiku..dan bagaimana keyakinanku andai ia berlaku pd diri ak...sedang diri menjelajah dunia melihat keindahan ciptaan ALLAH..insyaALLAH dgn niat mentadabbur alam..tiba2 diri dikejutkan dgn kisah sebegitu..subhanallah betapa ALLAH berkuasa atas setiap jiwa dan betapa ALLAH mengetahui segala sesuatu..dan betapa perancangan ALLAH melebihi perancangan manusia...

ya ALLAH..tatkala mendengar berita itu.ak cuba utk tdk mengendahkannya..mungkin krn keraguan pd penerimaan diri sendiri sekiranya ia berlaku pd diriku.ya ALLAH kuatkanlah hatiku pd agamaMu. kuatkan ketqwaanku pdMU.aku tahu ya ALLAH ak tidak memiliki mana2 jiwa pn dlm dunia ini..biar diriku sendiri atau ahli keluargaku atau sahabat2 y aku syangi...ya ALLAH berkatilah hidup kami Tuhan..andai ak lalai dlm mendoakan mrk..maka kejutlah ak ya ALLAH...semoga doaku sentiasa mengiringi mrk.. ameen 

damba cintaMu

Tuhanku ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku maafkanlah kejahilan hambaMu

Ku sering melanggar laranganMu
Dalam sedar ataupun tidak
Ku sering meninggalkan suruhanMu
Walau sedar aku milikMu

Bilakah diri ini kan kembali
Kepada fitrah sebenar
Pagi ku ingat petang ku alpa
Begitulah silih berganti

Oh Tuhanku Kau pimpinlah diri ini
Yang mendamba cintaMu
Aku lemah aku jahil
Tanpa pimpinan dariMu

Ku sering berjanji depanMu
Sering jua ku memungkiri
Ku pernah menangis keranaMu
Kemudian ketawa semula

Kau Pengasih Kau Penyayang Kau Pengampun
Kepada hamba-hambaMu
Selangkah ku kepadaMu
Seribu langkah Kau pada ku

Tuhan diri ini tidak layak ke syurga Mu
Tapi tidak pula aku sanggup ke neraka Mu

Ku takut kepadaMu
Ku harap jua padaMu
Moga ku kan selamat dunia akhirat
Seperti rasul dan sahabat

lagu: damba cintaMu
penyanyi: raihan

Friday, December 18

apa erti zuhud???

Pabila berbicara ttg kezuhudan sering kali kita membayangkan sifat para rasul dan para sahabat. Jarang sekali merasakan kepentingan kezuhudan pada hidup kita sebagai manusia muslim. Mungkin kerana persepsi kita yang mewujudkan bayangan kezuhudan yang sangat kompleks dan serius sehinggakan kita merasakan mustahil untuk kita capai. Jadi, kita mencari alasan bahawa kezuhudan yang tinggi tidak sinonim dengan kita pada zaman ini.  Hanya para Nabi SAW dan para sahabat shj yang mampu melakukannya. Akhirnya kita lalai dalam mencintai kezuhudan


Tetapi bukankah sebenarnya kezuhudan itu penting. Kezuhudanlah yang melahirkan cinta pada kematian, kerinduan pada akhirat, keinginan pada syahid; buah kepada penghayatan iman dan syahadah. (Subhanallah..apa aku sebegitu?) Begitulah keajaiban iman dan taqwa yang telah ditonjolkan oleh generasi sebelum ini; generasi zaman nubuwwah dan generasi zaman khulafa' . Malah kecintaan inilah yang melahirkan kesukaan ALLAH dan keredhaan ALLAH pada kita. Ttp bagaimana dapat kita mewujudkan kezuhudan dalam diri kita jika kita tidak mengenalinya????? Pada pandanganku hal ini dapat dinilai dan dihayati memlalui hadith dibawah   


كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang menempuh perjalanan.” Ibn Umar berkata, “jika engkau ada di sore hari, jangan menunggu pagi dan jika berada di pagi hari, jangan menunggu sore. Manfaatkan masa sehatmu untuk masa sakitmu dan masa hidupmu untuk kematianmu.” 
 (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad).


Imam al-Bukhari meriwayatkan hadis ini berturut-turut dari: Ali bin Abdullah, Muhammad bin Abdurrahman Abu al-Mundzir ath-Thafawi, Sulaiman al-A’masy, Mujahid dan Abdullah bin Umar, dari Rasulullah saw.
Ahmad meriwayatkannya berturut-turut dari: Waki, Sufyan, Laits bin Abi Salim, Abu Mu’awiyah dan Laits.
Ibn Majah meriwayatkannya dari Yahya bin Habib bin ‘Arabi, dari Hamad bin Zaid, dari Laits.
At-Tirmidzi meriwayatkannya dari Mahmud bin Ghaylan, dari Abu Ahmad, dari Sufyan, dari Laits; lalu Laits bin Abi Salim, dari Mujahid, dari Abdullah bin Umar. Dalam riwayat Ahmad, Ibn Majah dan at-Tirmidzi sesudah lafal “‘âbir as-sabîl” terdapat tambahan: “wa ‘udda nafsaka fî ahli al-qubûr (hitunglah dirimu termasuk ahli kubur.”

Makna Hadis
Dalam hadis ini Rasul memberi perumpamaan bagaimana seharusnya kita memposisikan diri di dunia: seakan kita adalah orang asing dan seperti orang yang sedang menempuh perjalanan.
Ath-Thayyibi, sebagaimana dikutip oleh al-Hafizh Ibn Hajar di dalam Fath al-Bârî, menjelaskan, “Orang yang berjalan di dunia diserupakan dengan orang asing yang tidak memiliki tempat tinggal. Kemudian Beliau mengungkapkan perumpamaan yang lebih tinggi: diserupakan dengan orang yang sedang menempuh perjalanan. Sebab, orang asing kadang kala tinggal di negeri asing. Berbeda dengan orang yang menempuh perjalanan menuju negeri yang jauh; sepanjang perjalanan itu terdapat lembah-lembah yang membinasakan, gurun-gurun yang mencelakakan dan begal jalanan. Orang yang demikian tidak akan tinggal walaupun sejenak. Oleh karena itu, Ibn Umar langsung menimpali dengan kata-kata, “jika engkau ada di sore hari jangan menunggu pagi…”
Lalu sabda Rasul, “wa ‘udda nafsaka fî ahli al-qabûr, maknanya adalah, “Teruslah berjalan dan jangan engkau futur. Sesungguhnya jika engkau lemah atau lalai maka engkau akan terhenti di tengah jalan (tidak sampai tujuan) dan binasa di lembah-lembah itu.”
Imam an-Nawawi di dalam Syarh al-Arba’în an-Nawawiyah berkata, makna hadis ini adalah, “Janganlah engkau cenderung pada dunia dan menjadikan dunia sebagai tempat menetap. Jangan berbicara kepada dirimu sendiri bahwa engkau akan menetap di dunia serta jangan mempertautkan diri dengan dunia sebagaimana orang asing tidak akan menautkan diri dengan selain tanah airnya.
Hadis ini merupakan isyarat untuk membangkitkan sikap zuhud di dunia dan mengambil bagian harta sekadar cukup untuk bekal (tidak berlebih). Sebagaimana seorang musafir tidak membutuhkan lebih dari apa yang bisa mengantarkannya pada tujuan perjalanannya, demikian pula seorang Mukmin di dunia; ia tidak akan membutuhkan lebih dari apa yang bisa mengantarkannya pada tujuan (akhirat). Hadis ini merupakan pokok dalam mendorong untuk mengambil jarak dengan dunia, bersikap zuhud di dalamnya, memandang remeh dunia dan bersikap qanâ’ah dengan bagian harta sekadar cukup untuk bekal hidup.
Hendaknya kita selalu mengingat pesan Nabi saw ini. Hendaknya setiap kita selalu merasa asing dengan dunia. Ia selalu ingat, bukan dunia ini tempat tinggal dia karena di dunia ini ia adalah orang asing. Ia tidak akan membiarkan hatinya terjerat oleh kecintaan pada tempat asing itu sehingga melupakan tanah air hakikinya. Hatinya tidak cenderung pada dunia. Ia tidak akan menikmati keintiman dengan dunia. Ia tidak akan bermesra-mesra dengan dunia. Hatinya tidak akan dia biarkan tertambat pada dunia sehingga merasa berat untuk menjauhi dan meninggalkannya. Sebaliknya, dunia baginya adalah sesuatu yang jauh lagi asing. Karena itu, hatinya ringan untuk melepas dunia itu dan tidak berat hati untuk meninggalkannya.
Hendaknya kita pun selalu ingat bahwa kita di dunia ini hanyalah ‘numpang lewat’. Fase kehidupan dunia ini hanyalah perjalanan untuk menuju ‘tanah air’ yang hakiki, yaitu akhirat. Sebagai orang yang sedang lewat saja, maka ia tidak akan berhenti berlama-lama, apalagi menetap. Ia pun tidak akan sibuk mengumpulkan harta dan perbekalan karena itu bisa memalingkannya dari perjalanan atau setidaknya menundanya. Selain itu, harta dan perbekalan yang terlalu banyak akan memberatkan dan menjadi beban di perjalanan yang bisa-bisa justru mencelakakannya. Sebaliknya, ia hanya mengambil harta dan perbekalan secukupnya saja, tidak berlebih. Itu pun dilakukan sambil terus berjalan. Sebagai orang yang sedang lewat, adalah tersesat jika ia justru menjadikan tempat singgah dan jalan yang ia lalui sebagai tujuan itu sendiri dan memalingkannya dari tempat tujuan yang hakiki.
Seorang Mukmin tidak selayaknya menjadi pecinta dunia, pemburu harta dan pencari kelezatan dunia. Sebaliknya. seorang Mukmin akan bersikap zuhud terhadap dunia dan qanâ’ah dengan karunia Allah yang ia terima. Dunia baginya adalah sesuatu yang asing dan tidak berharga. Ia jadikan dunia hanya sebagai jalan, wasilah dan sarana untuk mencapai tempat tujuan, yaitu akhirat. Akhiratlah yang selalu menjadi tambatan hatinya dan ujung angan-angannya. Wa mâ tawfîqi illâ billâh. [Yahya Abdurrahman]


Segalanya boleh bermula sedikit demi sedikit. Dan bukanlah kita perlu mencapai sebagaimana generasi terdahulu. Mereka hendaklah kita jadikan teladan. Selebihnya bergantung pada usaha kita dan kesanggupan kita. Semailah kezuhudan setakat yang termampu kerana buahnya dalam kehidupan sangatlah menyenangkan. Pabila ikatan hati pada dunia sudah longgar (mungkin susah untuk dileraikan sepenuhnya..), maka kehidupan akhirat akan lebih ditunggu-tunggu..isnyaALLAH..wallahua'lam.

 

Sunday, December 6

hidup bersama ALLAH

Dari Abu al Abbas, Abdullah bin Abbas ra berkata;
'suatu saat saya berada di belakang Nabi SAW, lalu beliau bersabda;
'wahai ananda, aku akan mengajarkn kepada mu beberapa perkara. Jagalah ALLAH, nescaya dia akan menjagamu. jagalah ALLAH nescaya dia kan selalu berada di hadapanmu. jika kamu meminta, mintalah kepada ALLAH. jika kamu memohon pertolongan pohonlah kepada ALLAH. ketahuilah, sesungguhnya andai kata sekelompok org besatu mendatangkan sesutau manfaat kepadamu, nescaya tidaka akan dapat memberi sedikit pun kecuali apa yang telah ALLAH tetapkan bagimu. dan andaikata mereka bersatu untuk mendatangkan sesuatu yang mencelakakanmu, nescaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali musibah yang mmg telah ALLAH tetapkan kepadamu.
 pena telah diangkat dan lembaran telah kering.
 (HR Tarmidzi, dia berkata 'hadith ini hasan dan sahih')

'jagalah ALLAH nescaya engkau akan mendatangkannya dihadapanmu. kenalilah ALLAH diwaktu senggang. nescaya dia kan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu, tidaklah akan menimpamu. dan apa yang ditetapkan akan menimpamu, tidak akan luput darimu. ketahuilah bahwa kemengang itu bersama kesabaran, dan kemudahan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.
(Hadith 19 dari hadith arbain; tajuknye: hidup bersama ALLAH)


maka berkasihlah dengan ALLAH
bercintalah dengan ALLAH
carilah keredhaan ALLAH smoga kehidupan dunia lebih bermakna
di samping ujian itu ad kasih sayang ALLAH
rasai kasih sayang ALLAH dengan keredhaan terhadapNya
tunduk pada kuasa ALLAH rahsia untuk redha pd segala ujianNya
kalaupn mencari jodoh untuk melindungi diri, jiwa dan keimanan maka doakanlah jodoh yang baik



dan dalam hal yang lain; pohon lah kekuatan dari ALLAH kerana tidak ada sumber kekuatan yang lain melainkn dariNya

lahaulaalakuwataillabillah

kerana ALLAH lah yang mencipta seluruh alam ini dan setiap inci jiwa manusia
(subhanallah)

wallahua'lam




Friday, December 4

indahnye hidayah dan kezuhudan yang dilemparkan ALLAH pada hati sa'id amir al jumahy


SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY
“Dia telah membeli akhirat dengan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul atas segala-galanya.” (Mu’arrikhin).
SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin ‘Ady, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka jatuhi hukuman tanpa alasan.
Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa’id maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat   duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain.
Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw., serta melampiaskan sakit hati atas ke kalahan mereka dalam perang Badar.
Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, ‘Sa’id mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin ‘Ady. ‘Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, “Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum saya kalian bunuh....”
Kemudian Sa’id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua raka’at. Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur ngulur waktu karena takut mati, niscaya saya akan shalat lebih banyak lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa’id melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencencang-cencang tubuh Khubaib hidup hidup.
Kata mereka, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”
“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri....,” jawab Khubaib mantap.
“Bunuh dia...! Bunuh dia...!” teriak orang banyak.
Sa’id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil mendo’a, “Ya, Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancur kanlah mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!”
Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhi di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.
Kaum kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau agak sedetikpun. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua raka’at dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendo ‘akan kaum kafir Quraisy. Karena itu Sa’id ketakutan kalau-kalau Allah swt. segera mengabulkan do’a Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.
Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan pada Sa’id beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.
Pertama, hidup yang sesungguhnya ialah hidup berakidah (beriman); kemudian berjuang mempertahankan ‘akidah itu sampai mati.
Kedua, iman yang telah terhunjam dalam di hati seorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.
Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.
Sejak itu Allah swt. membukakan hati Sa’id bin ‘Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala. Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-hala yang dipujanya selamaini. Kemudian diumumkannya bahwa mulai sa ‘at itu dia masuk Islam.
Tidak lama sesudah itu, Sa id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantisasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau, mula mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.
Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa’id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar. Dia menjadi teladan satu-satuya bagi orang orang mu’min yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.
Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan ‘Umar bin Khaththab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa’id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa ‘id.
Pada sutu hari di awal pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, Sa’id datang kepadanya memberi nasihat.
Kata Sa’id, “Ya ‘Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan.
Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan ke luarga Anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”
“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.
“Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab Sa’id meyakinkan.
Pada suatu ketika Khalifah ‘Umar memanggil Sa’id untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan.
“Hai Sa’id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.
“Wahai ‘Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,” kata Sa’id.
“Celaka Engkau!” balas ‘Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”
“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa’id.
Kemudjan Khalifah ‘Umar melantik Sa ‘Id menjadi Gubernur di Himsh.
Sesudah pelantikan, Khalifah ‘Umar bertanya kepada Sa’id, “Berapa gaji yang Engkau inginkan?”
“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mu’minin?” jawab Sa’id balik bertanya. “Bukankah penghasilan saya dan Baitul Mal sudah cukup?”
Tidak berapa lama setelah Sa ‘id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah ‘Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Hims yang di tugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.
Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah ‘Umar meminta daftar fakir rniskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy.
Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy. Lalu beliau bertanya “Siapa Sa ‘id bin ‘Amir yang kalian cantumkan ini?”
“Gubernur kami! “jawab mereka.
“Betulkah Gubernur kalian miskin?” tanya khalifah heran.
“Sungguh, ya Amiral Mu’minin! Demi Allah! Sering kali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),”jawab mereka meyakinkan.
Mendengar perkataan itu, Khalifah ‘Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.
“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir. Dan uang ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya” ucap ‘Umar sedih.
Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, rnenyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa ‘id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, ‘inna lilahi wa inna ilaihi raji’un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah).”
Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, “Apa yang terjadi, hai ‘Sa ‘Id? Meninggalkah Amirul Mu ‘minin?”
“Bahkan lebih besar dan itu!” jawab Sa’id sedih. “Apakah tentara muslimin kalah berperang?” tanya Isterinya pula.
“Jauh lebih besar dri itu!” jawab Sa’id tetap sedih. ‘Apa pulakah gerangan yang Iebih dari itu?” tanya isterinya tak sabar.
‘Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah rnenyusup ke rumah tangga kita,’ jawab Sa’id mantap.
“Bebaskan dirimu daripadanya! “ kata isteri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi pundi uang yang dikirimkan Khalifah ‘Umar untuk pri badi suarninya.
“Maukah Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa ‘id.
‘Tentu...;! “jawab isterinya bersemangat.
Maka Sa’id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi  kepada fakir miskin.
Tidak berapa lama kemudian, Khalifah ‘Umar berkunjung ke Syria, mengininspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau. menyempatkan diri singgah di Himsh Kota Himsh pada masa itu dinamai orang pula “Kuwaifah (Kufah kedil)”, karena rakyat nya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan ke1emahan-kelemahan Gubernur rnereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.
Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengeluelukan beliau, mengucapkan Selamat Datang.
Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-Saudara terhadap kebijakan Gubernur
“Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab rakyat.
“Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah ‘Umar sambil mendo’a: “Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.”
Maka tatkala sernua pihak—yaitu Gubernur dan masyarakat—telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan sau dara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-sau dara?”
Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara.
Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.
“Bagaimana tanggapan Anda mengenai lapor’an rakyat Anda itu, hai Sa ‘id?” tanya Khalifah.
Gubernur Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat.. Keluarga saya ti dak mempunyai pembantu. Karena itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu’. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk rnelayani masyarakat.”
“Apa lagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.
Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”
“Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya khalifah.
“ Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini,” kata Sa ‘id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk rnela yani masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah,” lanjut Sa ‘id
“Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.
Ketiga: Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.
“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.
“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini. Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap Said.
‘Nah, apa lagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.
Keempat: Sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu, biasanya beliau pergi meninggalkan majlis.”
“Silakan menanggapi, hai Gubernur Said!” kata Khali fah ‘Umar.
“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”
Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri ...“
‘Demi Allah...!” kata Sa’id. “Jika saya teringat akan peristiwa , di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku tidak akan diampuni Allah swt.”
Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah ‘U mar mengkahiri dialog itu.
Sekembalinya ke Madinah, Khalifah ‘Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya.
Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Sa’jd, “Segala puii bagi Allah yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita per gunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga untuk kita.”
“Adakah usul yang lebih baik dan itu?” tanya Sa’id kepada isterinya.
“Apa pulakah yang lebih baik dari itu? “ jawab isterinya balik bertanya.
“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagj kita,” jawab Sa’id.
“Mengapa....?” tanya isterinya.
Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih baik,” kata Said.
“Baiklah kalau begitu,” kata isterinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling baik.”
Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa ‘Id ke dalam beberapa pundi, lalu diperintah kannya kepada salah seorang keluarganya:
‘Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim Si Fulan. ini kepada si Fulan yang miskin... dan seterusnya.”
Semoga Allah swt. meridhai Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy. Dja telah membeli akhirat dengan menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta pahala yang berlipat ganda di akhirat, lebih dan segala-galanya. Amin!!!
                                                       ***