Tuesday, May 27

Daie

Daie itu, lembut hatinya pada derita ummat;
Sakitnya ummat, mencetus duka dihatinya;
Menguatkan dia untuk terus setia, pada Allah Yang Maha Esa;
Kucar-kacir masyarakat, menjadi beban fikirannya;
Yang diinginkan hanya kebaikan buat mereka;
Hatinya menangis memohon bantuan Tuhan Yang Berkuasa;

Saat demi saat dia menghitung dirinya;
Hai jiwa, mana mungkin daie yang banyak dosa mampu memikul dakwah yang mulia;
Maka dia berusaha;
Memuhasabah dirinya dan juga berubah tanpa alasan sia-sia.

Terkadang kita terlalu memandang diri kita mulia.

*exam ramblings after reading news back home :(

Monday, May 26

10 days count down

Its ten days to first paper of fourth year final exam with remaining three days of final placement. Please pray for me my lovely friends. Please pray that I will do it right. I am sometimes, a careless person. Please pray that I'll do things right.

#rumahsakit
#examiscoming

Friday, May 23

My Wings

My wings are my faith and my hope;
O Allah, forgive me for my shortcomings and sins; 
O Allah, bless me with serenity for believing and to keep believing;
O Allah, strengthen me and never leave me so fragile and scared.


Wednesday, May 21

The Art of Making Decision; the art of Living

We live, with the aim to do the best. Live it the best way so that we will not regret. We were given ability to think hence we can justify our options, make informed decisions, be prepared for the foreseen consequences.

Therefore, please do not mourn over the adverse consequences of wrong decision that you have made especially when you do it consciously.  You just shouldn't because you have chosen it. It was you who decide. If you knew you can't bear the consequences why did you adopt the decision? You decided to stand for something, so be brave. If you don't think you are not that strong, which you will be; than please do things right, humbly right. Consulting ALLAH, the believers and your iman; putting aside was was of syaitan and desires of nafs. 

Whenever you did good, it was to your own advantage; and whenever you committed evil, it was to your own disadvantage... (Isra:7)

Tuesday, May 20

Oh my Lord

Oh my Lord,
If humility is a the way for us to walk our remaining journey to you
Please please make our path to it easy

Oh my Lord,
If patience is the price for us to keep going 
Please please make us strong with it

Oh my Lord,
If trust in you is the root for this faith to live on
Please please keep all the other things good so the root will not be infected and die

Oh my Lord,
Clean us from all the dirt
Strengthen us with believing in your planning

Less than three weeks

It is coming in less than three weeks. I am worried to be honest. It is the so-called 'last chance' for me. Whether or not it's gonna be medical school again next year. Oh Lord, please guide me and bring me through this. I am of no power, will and capability without your mercy.

Saturday, May 17

Praying for Success

A talk on one of my favourites ayat since learning to know Quran and D&T; given by my long-time-no-see murabbiah. It's wonderful to know that she is well and happily enjoying her life post-HO and umrah by the side of  her beloved family now.

As for me, it is three weeks to end of fourth year exam, round two and final trial. Please ALLAH, help me through it.


Friday, May 16

Yang aku tahu, Allah bersamaku

** kopi pes**
Assalamualaikum wbt,
Saya kongsikan tazkirah dari seorang ukhti.


aku percaya
maka aku akan melihat keajaiban
iman adalah mata yang terbuka
mendahului datangnya cahaya

"AKU".
Jawapan Musa itu terkesan tak tawadhu'. Ketika seorang di antara Bani Israel bertanya siapakah yang paling 'alim di muka bumi, Musa menjawab, "Aku". Tapi oleh sebab jawapan inilah di Surah Al-Kahfi membentang 23 ayat, mengisahkan pelajaran yang harus dijalani Musa kemudian. Uniknya di dalam senarai ayat-ayat itu terselit satu lagi kalimat Musa yang tak tawadhu'. "Kau akan mendapatiku, insyaAllah sebagai seorang yang sabar". Ini ada di ayat yang keeampuluh sembilan.

Di mana letak angkuhnya? Bandingkan struktur bahasa Musa, begitu para musfassir mencatat, dengan kalimat Ismail putera Nabi Ibrahim. Saat mengungkapkan pendapatnya pada sang ayah jikakah dia akan dismebelih, Ismail berkata, "Engkau akan mendapatiku insyaAllah termasuk orang-orang yang sabar". 
Tampak bahawa Ismail memandang dirinya sebagai bagian kecil dari orang-orang yang dikarunia kesabaran. Tapi Musa, menjanjikan kesabaran atas nama peribadinya. Dan sayangnya lagi, dalam kisahnya di surah al-Kahfi, ia tak sesabar itu. Musa kesulitan untuk bersabar seperti yang ia janjikan. Sekira dua puluh abad kemudian, dalam rakaman alBukhari dan Muslim, Muhammad s.a.w bersabda tentang kisah perjalanan itu, "Andai Musa lebih bersabar, mungkin kita akan mendapat lebih banyak pelajaran".
Wallahu'Alam. Mungkin memang seharusnya begitulah karakter Musa AS. Kurang tawadhu' dan tak begitu penyabar. Sebab, yang dihadapinya adalah orang yang paling angkuh dan menindas di muka bumi. Bahkan mungkin sepanjang sejarah. Namanya Firaun. Sangat tidak sesuai menghadapi orang seperti Firaun dengan kerendahan hati dan kesabaran selautan. Maka Musa adalah Musa. Seorang hamba yang Allah pilih untuk menjadi utusannya bagi Firaun yang sombong berlimpah justa. Dan sekaligus, memimpin Bani Isreal yang keras kepala.

Hari itu, setelah ucapannya yang jumawa, Musa menerima perintah untuk berjalan mencari titik pertemuan dua lautan. Musa berangkat dikawani Yusya ibn Nun yang kelak menggantikannya memimpin trah Ya'qub. Suatu waktu, Yusya melihat lauk ikan yang mereka kemas dalam bekal meloncat mencari jalan kembali ke lautan. Awalnya, Yusya lupa memberitahu Musa. Mereka baru kembali ke tempat itu setelah Musa menanyakan bekal akibat deraan letih dan lapar yang menggeliang dalam usus.
Di sanalah mereka bertemu dengan seorang yang Allah sebut sebagai, "Hamba di antara hamba-hamba Kami yang Kami anugerahi rahmat dari arsa Kami, dan Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami". Padanyalah Musa berguru. Memohon diajar sebagian dari apa yang telah Allah fahamkan kepada Sang Guru. Nama Sang Guru tak pernah disebut dalam al-Quran. Dari hadis dan tafsir lah kita berkenalan dengan Khidzir. 
Kita telah akrab dengan kisah ini. Ada kontrak belajar di antara keduanya. "Engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar. Dan aku takkan mendurhakaimu dalam perkara apapun!", janji Musa. "Jangan kau bertanya sebelum dijelaskan kepadamu", pesan Khidzir. Dan dalam perjalanan menyejarah itu, Musa tak mampu menahan derasnya tanya dan keberatan ats tiga perilaku Khidzir. Perusakan perahu, pembunuhan seorang pemuda, dan penolakan ats permohonan jamuan yang berakhir dengan kerja berat menegakkan dinding yang nyaris roboh. Tanpa minta imbalan.

Alhamdulillah, kita belajar banyak dari kisah-kisah ini. Kita belajar bahwa dalam hidup ini, pilihan-pilihan tak selalu mudah. Sementara kita harus tetap memilih. Seperti para nelayan pemilik kapal. Kapal yang bagus akan direbut raja zalim. Tapi sedikit cacat justeru menyelamatkannya. Sesuatu yang 'sempurna' terkadang mengundang bahaya. Justeru saat tak utuh, suatu milik tetap bisa kita rengkuh. Ada tertulis dalam kaedah fiqh, " maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh.. apa yang tak bisa didapatkan sepenuhnya, jangan ditinggalkan semuanya"
Kita juga belajar bahawa 'membunuh' bibit kerosakan ketika dia baru bercambah adalah pilihan bijaksana. Dalam beberapa hal seringkali ada manfaat diraih sekaligus kerusakan yang meniscaya. Padanya, sebuah tindakan didahulukan untuk mencegah bahaya. Ada tertulis dalam kaedah fiqh, "Dar'ul mafaasid muqaddamun 'alaa jalbil mashaalih. Mencegah kerosakan didahulukan atas meraih kemaslahatan".

Dan dari Khidzir kita belajar untuk ikhlas. Untuk tak selalu menghubungkan kebaikan yang kita lakukan, dnegan hajat-hajat diri yang sifatnya sesaat. Untuk selalu mengingat urusan kita dengan Allah, dan biarkanlah tiap diri bertanggungjawab padaNya. Selalu kita ingat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sultan Damaskus yang dimakan fitnah memenjarakan dan menyiksanya. Tapi ketika bayang-bayang kehancuran menderak dari Timur, justeru Ibnu Taimiyah yang dipanggil Sultan untuk maju memimpin ke garis depan. Berdarah-darah ia hadapi air bah serbuan Tartar yang bagai awan gelap mendahului fajar hendak menyapu Damaskus.
Ketika musuh terhalau, penjara kota dan siksa menantinya kembali. Saat ditanya mengapa rela, ia berkata, "Adapun urusanku adalah berjihad untuk kehirmatan agama Allah serta kaum muslimin. Dan kezaliman Sultan adalah urusannya dengan Allah".

Iman dan Keajaiban yang Mengejutkan 

Subhanallah, alngkah lebih banyak lagi ibrah yang bisa digali dari kisah Musa dan Khidzir. Berlapis-lapis. Ratusan. Lebih. Tapi mari sejenak berhenti di sini. Mari picingkan mata hati ke arah kisah. Mari saksamai cerita ini dari langkah tertatih kita di jalan cinta para pejuang. Mari bertanya pada jiwa, di jalan cinta para pejuang siapakah yang lebih dekat ke hati untuk diteladani?
Musa. Bukan gurunya.
Ya, kerana di akhir kisah Sang Guru mengaku, "Wa maa fa'altahuu min amrii..Apa yang aku lakukan bukanlah keinginanku". Khidzir hanyalah guru yang dihadirkan Allah untuk Musa di penggal kecil kehidupannya. kepada Khidzir, Allah berikan semua pemahaman secara utuh dan lengkap tentang jalinan pelajaran yang harus ia uraikan pada Rasul agung pilihanNya, Musa AS. Begitu lengkapnya petunjuk operasional dalam tiap tindakan Khidzir itu menjadikannya sekadar sebagai operator lapangan yang mirip malaikat. Segala yang ia lakukan bukanlah perkaranya. Bukan keinginannya.

....

Justeru keagungan para rasul itu terletak pada kemampuan mereka menyikap perintah yang belum tersingkap hikmahnya dengan iman. Dengan iman. Dengan iman.Berbeda dengan Khidzir yang diberitahu senario dari awal hingga akhir atas apa yang harus dia lakukan-ketika mengajar Musa-, para Rasul seringkali tak tahu apa yang akan mereka hadapi atau terima sesudah perintah dijalani. Mereka tak pernah tahu apa yang menanti di hadapan.

Yang mereka tahu hanyalah, Allah bersama mereka. 

Nuh yang brsipayah membuat kapal di puncak bukit tentu saja harus menahan geram ketika dia ditertawai, diganggu, dan dirusuh oleh kaumnya. Tetapi, sesudah hampir 500 tahun mengemban risalah dengan pengikut yang nyaris tak bertambah, Nuh berkata dengan bijak, "Kelak kami akan mentertawai kalian sebagaimana kalian kini mentertawai kami".
Ya, Nuh belum tahu bahawa kemudian banjir akan tumpah. Tercurah dari celah langit, terpancar dari rekah bumi. Air meluap dari tungkunya orang membuat roti dan mengepung setinggi gunung. Nuh belum tahu. Yang ia tahu adalah ia diperintahkan membina kapalnya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya.

Ibrahim yang bermimpi, dia juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putera tercinta. Anak itu, yang lama dirindukannya, yang dia nanti dengan harap dan mata gerimis di tiap doa, tiba-tiba dititahkan untuk dipisahkan dari dirinya. Dulu ketika lahir dia dipisah dengan ditinggal di lembah Bakkah yang tak bertanaman, tak berhaiwan, tak bertuan. Kini Ismail harus dibunuh. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh tangannya sendiri.

Dibaringkanlah sang putera yang pasrah dalam taqwa. Dan ayah mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayau leher sang putera dengan pisau? Ayah mana yang sanggup mengalirkan darah di bawah kepala yang biasa dibelainya sambil tetap menatap wajah? Tidak. Ibrahim terpejam. Dan ia melakukannya! Ia melakukannya mesti belum tahu bahawa seekor domba besar akan menggantikan sang korban. Yang diketahuinya saat itu bahawadia diperintah Tuhannya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksankan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya.

Musa juga menemui jalan buntu, terantuk Laut Merah dalam kejaran Firaun. Bani Israel yang dipimpinnya sudah riuh tercekam panik. "Kita pasti tersusul! Kita pasti tersusul! Sesungghnya Rabbku bersamaku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku". Petunjuk itu pun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata, "Apa gunanya? Lebih baik dipukulkan ke kepala Foraun!" Ya, bahkan Musa belum tahu bahawa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. dan itu cukup baginya.

Merekalah para guru sejati. Yang kisahnya membuat punggung kita tegak, dada kita lapang, dan hati berseri-seri. Yang keteguhannya memancar menerangi. Yang keagungannya lahir dari iman yang kukuh, bergerun mengatasi gelojak hati dan nafsu diri. Di jalan cinta para pejuang, iman melahirkan keajaiban. Lalu keajaiban menguatkan iman. Semua itu terasa lebih indah kerana terjadi dalam kejutan-kejutan. Yang kita tahu hanyalah "Allah bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku".


Nuh belum tahu bahawa banjir nantinya tumpah
ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai
Ibrahum belum tahu bahawa akan tercawis domba
ketika pisau nyaris memapas buah hatinya
Musa belum tahu bahawa lautan kan terbelah
saat ia diperintah memukulkan tongkat
di Badar Muhammad berdoa, bahunya terguncang isak
"Andai pasukan ini kalah, Kau takkan lagi disembah!"

dan kita pun belajar, alangkah agungnya iman!

*************************************************

Mari kuatkan usaha untuk terus berbuat walau kita tak tahu apa yang menanti di hadapan. Moga Allah menghantar pertolonganNya buat kita semua.

Bittaufiq wannajah

Thursday, May 15

Surah Maryam & Al Kausar

Sharing usrah khamis lepas.

Kami tadabbur cerita Maryam (19:12-27) dan sharing tafsir kausar.

TADABBUR SURAH MARYAM

1. Ayat 22 cerita ttg maryam yg mengasingkan diri ketika mengandungkan Nasi Isa as. 

Maryam tak buat dosa, tapi dia mengasingkan diri kerana pandangan manusia. Skrg kita tgk manusia buat dosa dan bangga dgn dosa. Kita tahu besarnya marah Allah pd org yg menyesatkan manusia lain dan bangga dgn dosanya. Kita doa spy Allah tak menjadikan kita 'syaitan' yg menyesatkan manusia lain dgn memenuhi kehendak nafsu kita. Semoga kita benar2 menjadi hamba Allah. 

2. Ayat 23 cerita Maryam mengharapkan kematian dan menjadi orang yang tidak diperhatikan dan dilupakan. 

She wished for something that doesnot reflect the value of Allah's belssing to her pdhal dia tahu Nabi Isa adalah rahmat Allah, kemuliaan kpd dia. 

 *dgn cth ni kita tak memandang rendah pd ap yg Maryam buat, tapi utk kita belajar dan perbaiki diri kita* 

Yg kita reflected was bila kita dalam extremes of emotions: marah, takut, kecewa, risau... Kita akan buat wishes atau kata2 yg sgt buruk dan tergesa-gesa. Takut dlm extremes of emotions kita akan minta sesuatu yg menjadikan kita sombong atau tidak bersyukur, pessimis. 

Indeed utk jd org yg betul2 besyukur dan optimis pd Allah bukan semata2 pd kata-kata. Kadang2 kita kata kita sabar bila diuji Allah tp padahal saat kita diuji, kita mengeluh dgn sgt banyak, malah tackle ujian Allah itu dgn akhlak yg sgt buruk atau mungkin dgn memandang tinggi pd diri kita sendiri. Some emotions can be subtle but it will come to the surface especially bila kita rasa tertekan. 

Jwpan kpd menghadapi ujian Allah dgn baik adalh utk menerima ujian Allah dgn rela hati dan meminta kekuatan/rahmat Allah spy ujian ituk dpt dilalui dgn baik. Bukan meminta utk Allah hilangkan tugasan/ujian itu terus, tapi utk minta kekuatan spy mampu buat dgn baik. Sbgaimana doa Nabi Musa ketika dia disuruh berjumpa dgn Firaun: he didnt say, i cant, but he said: lapangkan dadaku, mudahkan urusanku... (He asked for things that he will need to face the trials)

In our life, sometimes we want happiness so much that we become disappointed with trials. Face the trials the right way, inshaAllah blessings will come with it. 

Ni talk nouman ali pd ayt surah tahaa tu. Have a listen, moga ayat2 Allah membentuk akhlak dan perasaan kita. *pertamanya: kerendahan hati seorang hamba kpd Tuhan dan kepercayaan hamba kepada kekuasaan Tuhannya.. Once you have this, inshaAllah other things will come into place.


SHARING SURAH KAUSAR

In short, surah ni turun sbb Allah nak pujuk Nabi saw lepas org kafir kata nabi adalah org terputus (abtar) krn takde waris (semua anak lelaki dia mati), tp Allah remind Nabi ttg nikmat2 yg dia dah bg, pesan utk terus beramal dgn ikhlas dan berterusan berkorban dan kemudiannya stresskan lagi bhw org yg memandang buruk pd agama tu, dialah yg rugi dan hina. 

Ada 3 points yg boleh kita cuba didik dlm jiwa kita: 

1. Affective learning; kita kena rasa bangga menjadi hamba kpd Allah. Allah nak kata being a muslim is something that is really valuable dan reflected dlm ayat2 lain sbg cth: 3:136 - jgn kamu rasa lemah dan sedih hati, kamu yg tinggi darjatnya kalau kamu org beriman.

2. Cognitive learning: we need to really conciously realise betapa byknya nikmat yg Allah da bg pd kita. 
Pd Nabi, Allah kata dia bg Al-Kausar- nikmat yg byk dan berterusan. Ada ahli tafsir menafsirkan sbg kenabian, telaga kausar dan bbrp lagi. 

Tapi kita pun Allah bg banyak nikmat jg. Just sometimes we fail to appreciate the blessings. Thats why we cant see the wonders around us. Kadang2 kita sedey, the FIRST THING we do is whine or relax wif movies, shoppings etc.  Padahal Allah dah berikan AQ dan ajarkan solat utk kita get connected to Him directly.  We fail to appreciate it. So we choose something simple. Something that has more material value but less permanent effect. Allah is permanent. But it is hard for to appreciate it because we have relied too much on the worldly comfort. 

Semoga Allah mendidik kita utk menghargai dan memahami makna kedekatan Dia dlm hidup kita sbgmana yg  Dia ajarkan dlm surah Al Baqarah 2:186 - fa inni qarib *hingga akhir ayat*

3. Psychomotor learning: dgn menjadi org bersyukur, kita kena berusaha: 

3.1 - utk IKHLASKAN AMAL kita kpd Allah which means buat ap yg Allah suruh krn Allah dan tinggalkan apa yg Allah larang juga kerana Allah. THESE SHOULD NOT BE MIXED UP - sbagaimana air sirap manis yg sedap akan rasa sgt xsedap kalau kita tambah garam. Ikhlas maknanya doing things for the right purpose in the right way. Mengambil islam secara total kerana Allah, meninggalkan jahiliyyah secara total juga kerana Allah. Barulah tercapai maknanya pesanana Allah spy kita udkhulu fi silmi kaafah - masuklah ke dlm silmi (islam, kedamaian dan keselamatan) scr keseluruhan. 

3.2 - berkorbanlah. Korban hati dan perasaan, tenaga, masa, cinta - especially cinta pd diri sendiri dan dunia. 



Monday, May 12

The present that reminds you to the Presenter

What does it means to have family of mujahid mujahidah? It is to be truthful to ALLAH and return all the wonders to Him with having absolute faith in Him. Can we achieve that?





Saturday, May 3

Memaknakan janji seorang hamba

Bismillah

Lima tahun yang lepas, saat aku mula mengenal dunia tarbiyah, aku cuba melembutkan hati. Aku tahu, inilah ia jalan yang aku pinta dari Tuhanku. Jalan yang aku pinta dalam lafaz doa yang terlintas bersama air mata yang mengiringi kekecewaan pada diri yang tega melakukan dosa-dosa. Saat-saat itu, saat jahilku. Saat itu aku tega meladeni hawa' yang benar-benar memenuhi nafsuku pada suatu sudut dalam jiwa itu benar-benar sentiasa memujukku untuk takut pada Tuhanku. Ia meminta dengan rayuan dalam kelemahan.

Hai Tuhan, selamatkan aku. Selamatkan.
Tapi aku masih ingat waktu-waktu itu, jiwa ini benar keras. Meneruskan langkah bodoh bergelumang dalam lubuk jahil hitam. Lalai. Bahagia dengan dunia. Buta pada makna dan nilai dosa. Padahal yang menyusul kelalaian dan jahiliyyah itu adalah kekecewaan nyata yang membawa pada doa-doa dan tangisan mohon ampun dalam solat.

Maka, saat aku mendapat peluang mengenal jalan membersihkan jiwaku, dan dia bawa aku jauh dari kehidupan lamaku, aku tekad meninggalkan lubuk hitam itu. Walaupun aku tidak mampu nafikan bahawa kebusukan lubuk hitam pekat itu bercampur baur dengan halusinasi keindahan dan kelekaan; aku tekad untuk memenangkan rasa pedih yang merayu-rayu itu. Aku ingin berubah. Jalannya? Aku mohon Tuhan yang pimpinkan.

Kini sudah hampir lima tahun aku menitinya. Aku mulakan langkah-langkah itu dulu dengan beberapa rangkap kata:

Bernafas dalam jiwa hamba, melangkah mencari cinta, menggapai redha, setiap langkah yang dihayun, nafas yang dihembus, aku ingin semakin lebih dekat denganNya. Dan itulah, derapan langkah kehambaanku. 
Mengingati apa yang telah dilalui, pasti ada hati yang akan sebak dan hati itu adalah hatiku. Sukar benar, aku tidak ingin menipu, Ujian Tuhan Yang Maha Esa itu benar-benar menggugah hati yang pada setiap puncak ujiannya, pasti hati akan berdetikan,

"Kenapakah begini?" - Takjub dengan hebatnya perancangan Ilahi
"Benarkah aku ingin teruskan ini?"  - Ragu pada kuatkah tekad dan kemampuanku sendiri
"Pedih benar wahai Tuhanku"  
Tapi aku benar ingin memaknakan janjiku itu. Janji seorang hamba. Yang telahku niatkan, antaranya saat aku mula menghayati lafaz doa iftitahku. Saat aku niatkan aku ingin membumikan benih ini di daerah hatiku. Bagaimana?

Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, matiku kerana ALLAH Taala.
Bagaimana?

tbc... 
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ  
Ya Tuhan, kuatkanlah aku denganMu. Golongkan kami dalam kalangan Siddiqun wa Raasyiduun. 

Thursday, May 1

hari saat hati di tarik-tarik

mixed feeling   [ ^^,] but struggling to believe people again 

aku mohon Tuhan.. kembalikan ketenangan itu 
keletihan bermain tarik tali dengan kemarahan sedang hal itu hanya hal kecil