Friday, May 16

Yang aku tahu, Allah bersamaku

** kopi pes**
Assalamualaikum wbt,
Saya kongsikan tazkirah dari seorang ukhti.


aku percaya
maka aku akan melihat keajaiban
iman adalah mata yang terbuka
mendahului datangnya cahaya

"AKU".
Jawapan Musa itu terkesan tak tawadhu'. Ketika seorang di antara Bani Israel bertanya siapakah yang paling 'alim di muka bumi, Musa menjawab, "Aku". Tapi oleh sebab jawapan inilah di Surah Al-Kahfi membentang 23 ayat, mengisahkan pelajaran yang harus dijalani Musa kemudian. Uniknya di dalam senarai ayat-ayat itu terselit satu lagi kalimat Musa yang tak tawadhu'. "Kau akan mendapatiku, insyaAllah sebagai seorang yang sabar". Ini ada di ayat yang keeampuluh sembilan.

Di mana letak angkuhnya? Bandingkan struktur bahasa Musa, begitu para musfassir mencatat, dengan kalimat Ismail putera Nabi Ibrahim. Saat mengungkapkan pendapatnya pada sang ayah jikakah dia akan dismebelih, Ismail berkata, "Engkau akan mendapatiku insyaAllah termasuk orang-orang yang sabar". 
Tampak bahawa Ismail memandang dirinya sebagai bagian kecil dari orang-orang yang dikarunia kesabaran. Tapi Musa, menjanjikan kesabaran atas nama peribadinya. Dan sayangnya lagi, dalam kisahnya di surah al-Kahfi, ia tak sesabar itu. Musa kesulitan untuk bersabar seperti yang ia janjikan. Sekira dua puluh abad kemudian, dalam rakaman alBukhari dan Muslim, Muhammad s.a.w bersabda tentang kisah perjalanan itu, "Andai Musa lebih bersabar, mungkin kita akan mendapat lebih banyak pelajaran".
Wallahu'Alam. Mungkin memang seharusnya begitulah karakter Musa AS. Kurang tawadhu' dan tak begitu penyabar. Sebab, yang dihadapinya adalah orang yang paling angkuh dan menindas di muka bumi. Bahkan mungkin sepanjang sejarah. Namanya Firaun. Sangat tidak sesuai menghadapi orang seperti Firaun dengan kerendahan hati dan kesabaran selautan. Maka Musa adalah Musa. Seorang hamba yang Allah pilih untuk menjadi utusannya bagi Firaun yang sombong berlimpah justa. Dan sekaligus, memimpin Bani Isreal yang keras kepala.

Hari itu, setelah ucapannya yang jumawa, Musa menerima perintah untuk berjalan mencari titik pertemuan dua lautan. Musa berangkat dikawani Yusya ibn Nun yang kelak menggantikannya memimpin trah Ya'qub. Suatu waktu, Yusya melihat lauk ikan yang mereka kemas dalam bekal meloncat mencari jalan kembali ke lautan. Awalnya, Yusya lupa memberitahu Musa. Mereka baru kembali ke tempat itu setelah Musa menanyakan bekal akibat deraan letih dan lapar yang menggeliang dalam usus.
Di sanalah mereka bertemu dengan seorang yang Allah sebut sebagai, "Hamba di antara hamba-hamba Kami yang Kami anugerahi rahmat dari arsa Kami, dan Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami". Padanyalah Musa berguru. Memohon diajar sebagian dari apa yang telah Allah fahamkan kepada Sang Guru. Nama Sang Guru tak pernah disebut dalam al-Quran. Dari hadis dan tafsir lah kita berkenalan dengan Khidzir. 
Kita telah akrab dengan kisah ini. Ada kontrak belajar di antara keduanya. "Engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar. Dan aku takkan mendurhakaimu dalam perkara apapun!", janji Musa. "Jangan kau bertanya sebelum dijelaskan kepadamu", pesan Khidzir. Dan dalam perjalanan menyejarah itu, Musa tak mampu menahan derasnya tanya dan keberatan ats tiga perilaku Khidzir. Perusakan perahu, pembunuhan seorang pemuda, dan penolakan ats permohonan jamuan yang berakhir dengan kerja berat menegakkan dinding yang nyaris roboh. Tanpa minta imbalan.

Alhamdulillah, kita belajar banyak dari kisah-kisah ini. Kita belajar bahwa dalam hidup ini, pilihan-pilihan tak selalu mudah. Sementara kita harus tetap memilih. Seperti para nelayan pemilik kapal. Kapal yang bagus akan direbut raja zalim. Tapi sedikit cacat justeru menyelamatkannya. Sesuatu yang 'sempurna' terkadang mengundang bahaya. Justeru saat tak utuh, suatu milik tetap bisa kita rengkuh. Ada tertulis dalam kaedah fiqh, " maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh.. apa yang tak bisa didapatkan sepenuhnya, jangan ditinggalkan semuanya"
Kita juga belajar bahawa 'membunuh' bibit kerosakan ketika dia baru bercambah adalah pilihan bijaksana. Dalam beberapa hal seringkali ada manfaat diraih sekaligus kerusakan yang meniscaya. Padanya, sebuah tindakan didahulukan untuk mencegah bahaya. Ada tertulis dalam kaedah fiqh, "Dar'ul mafaasid muqaddamun 'alaa jalbil mashaalih. Mencegah kerosakan didahulukan atas meraih kemaslahatan".

Dan dari Khidzir kita belajar untuk ikhlas. Untuk tak selalu menghubungkan kebaikan yang kita lakukan, dnegan hajat-hajat diri yang sifatnya sesaat. Untuk selalu mengingat urusan kita dengan Allah, dan biarkanlah tiap diri bertanggungjawab padaNya. Selalu kita ingat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sultan Damaskus yang dimakan fitnah memenjarakan dan menyiksanya. Tapi ketika bayang-bayang kehancuran menderak dari Timur, justeru Ibnu Taimiyah yang dipanggil Sultan untuk maju memimpin ke garis depan. Berdarah-darah ia hadapi air bah serbuan Tartar yang bagai awan gelap mendahului fajar hendak menyapu Damaskus.
Ketika musuh terhalau, penjara kota dan siksa menantinya kembali. Saat ditanya mengapa rela, ia berkata, "Adapun urusanku adalah berjihad untuk kehirmatan agama Allah serta kaum muslimin. Dan kezaliman Sultan adalah urusannya dengan Allah".

Iman dan Keajaiban yang Mengejutkan 

Subhanallah, alngkah lebih banyak lagi ibrah yang bisa digali dari kisah Musa dan Khidzir. Berlapis-lapis. Ratusan. Lebih. Tapi mari sejenak berhenti di sini. Mari picingkan mata hati ke arah kisah. Mari saksamai cerita ini dari langkah tertatih kita di jalan cinta para pejuang. Mari bertanya pada jiwa, di jalan cinta para pejuang siapakah yang lebih dekat ke hati untuk diteladani?
Musa. Bukan gurunya.
Ya, kerana di akhir kisah Sang Guru mengaku, "Wa maa fa'altahuu min amrii..Apa yang aku lakukan bukanlah keinginanku". Khidzir hanyalah guru yang dihadirkan Allah untuk Musa di penggal kecil kehidupannya. kepada Khidzir, Allah berikan semua pemahaman secara utuh dan lengkap tentang jalinan pelajaran yang harus ia uraikan pada Rasul agung pilihanNya, Musa AS. Begitu lengkapnya petunjuk operasional dalam tiap tindakan Khidzir itu menjadikannya sekadar sebagai operator lapangan yang mirip malaikat. Segala yang ia lakukan bukanlah perkaranya. Bukan keinginannya.

....

Justeru keagungan para rasul itu terletak pada kemampuan mereka menyikap perintah yang belum tersingkap hikmahnya dengan iman. Dengan iman. Dengan iman.Berbeda dengan Khidzir yang diberitahu senario dari awal hingga akhir atas apa yang harus dia lakukan-ketika mengajar Musa-, para Rasul seringkali tak tahu apa yang akan mereka hadapi atau terima sesudah perintah dijalani. Mereka tak pernah tahu apa yang menanti di hadapan.

Yang mereka tahu hanyalah, Allah bersama mereka. 

Nuh yang brsipayah membuat kapal di puncak bukit tentu saja harus menahan geram ketika dia ditertawai, diganggu, dan dirusuh oleh kaumnya. Tetapi, sesudah hampir 500 tahun mengemban risalah dengan pengikut yang nyaris tak bertambah, Nuh berkata dengan bijak, "Kelak kami akan mentertawai kalian sebagaimana kalian kini mentertawai kami".
Ya, Nuh belum tahu bahawa kemudian banjir akan tumpah. Tercurah dari celah langit, terpancar dari rekah bumi. Air meluap dari tungkunya orang membuat roti dan mengepung setinggi gunung. Nuh belum tahu. Yang ia tahu adalah ia diperintahkan membina kapalnya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya.

Ibrahim yang bermimpi, dia juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putera tercinta. Anak itu, yang lama dirindukannya, yang dia nanti dengan harap dan mata gerimis di tiap doa, tiba-tiba dititahkan untuk dipisahkan dari dirinya. Dulu ketika lahir dia dipisah dengan ditinggal di lembah Bakkah yang tak bertanaman, tak berhaiwan, tak bertuan. Kini Ismail harus dibunuh. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh tangannya sendiri.

Dibaringkanlah sang putera yang pasrah dalam taqwa. Dan ayah mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayau leher sang putera dengan pisau? Ayah mana yang sanggup mengalirkan darah di bawah kepala yang biasa dibelainya sambil tetap menatap wajah? Tidak. Ibrahim terpejam. Dan ia melakukannya! Ia melakukannya mesti belum tahu bahawa seekor domba besar akan menggantikan sang korban. Yang diketahuinya saat itu bahawadia diperintah Tuhannya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksankan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya.

Musa juga menemui jalan buntu, terantuk Laut Merah dalam kejaran Firaun. Bani Israel yang dipimpinnya sudah riuh tercekam panik. "Kita pasti tersusul! Kita pasti tersusul! Sesungghnya Rabbku bersamaku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku". Petunjuk itu pun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata, "Apa gunanya? Lebih baik dipukulkan ke kepala Foraun!" Ya, bahkan Musa belum tahu bahawa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. dan itu cukup baginya.

Merekalah para guru sejati. Yang kisahnya membuat punggung kita tegak, dada kita lapang, dan hati berseri-seri. Yang keteguhannya memancar menerangi. Yang keagungannya lahir dari iman yang kukuh, bergerun mengatasi gelojak hati dan nafsu diri. Di jalan cinta para pejuang, iman melahirkan keajaiban. Lalu keajaiban menguatkan iman. Semua itu terasa lebih indah kerana terjadi dalam kejutan-kejutan. Yang kita tahu hanyalah "Allah bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku".


Nuh belum tahu bahawa banjir nantinya tumpah
ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai
Ibrahum belum tahu bahawa akan tercawis domba
ketika pisau nyaris memapas buah hatinya
Musa belum tahu bahawa lautan kan terbelah
saat ia diperintah memukulkan tongkat
di Badar Muhammad berdoa, bahunya terguncang isak
"Andai pasukan ini kalah, Kau takkan lagi disembah!"

dan kita pun belajar, alangkah agungnya iman!

*************************************************

Mari kuatkan usaha untuk terus berbuat walau kita tak tahu apa yang menanti di hadapan. Moga Allah menghantar pertolonganNya buat kita semua.

Bittaufiq wannajah

No comments:

Post a Comment