Wednesday, March 10

ikhlas dan benar (lagi coretan)..

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan dalam firman-Nya:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا
“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalannya” (Al-Mulk:2).

Berkata al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Makna ayat ini adalah, bahwasannya Allah  telah menjadikan makhluk-makhluk dari sesuatu yang tadinya tidak ada (kemudian menjadi ada) untuk menguji mereka siapa diantara mereka yang paling baik amalannya”. (Tafsir Ibnu Katsir 8/176).

Adapun yang dimaksud dengan amalan yang paling baik sebagaimana kata al-Imam Abu ‘Ali Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah adalah, “amalan yang paling ikhlas dan paling benar”, orang-orang bertanya, “Wahai Abu ‘Ali apakah yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjelaskan, “Sesungguhnya amalan jika telah ikhlas tetapi tidak benar maka tidak diterima (oleh Allah ), demikian sebaliknya, jika amalan tersebut telah benar tetapi tidak ikhlas juga tidak akan diterima (oleh Allah ) sampai menjadi ikhlas dan benar.
Sedangkan yang dimaksud dengan amal yang ikhlas adalah yang dilakukan karena Allah  dan yang dimaksud dengan amalan yang benar adalah jika dilakukan sesuai Sunnah (Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam)”. (Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, hal. 451-452 ).

Inilah diantara perkataan Fudhail bin ‘iyadh yang sangat berharga, yang kesimpulannya adalah: Dalam beramal harus terpenuhi dua syarat dan menghindari dua perusaknya:
1. Syarat pertama: ikhlas karena Allah Ta’ala, perusaknya adalah riya’
2. Syarat Kedua: Mencontoh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, perusaknya adalah bid’ah (mengada-ngadakan dalam agama tanpa ada contoh dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Lebih jelas ttg bid’ah berikut ini beberapa dalilnya:

1. Hadits Aisyah , bahwa Rasulullah  bersabda:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس فيه فهو رد
“Barang siapa yang mengada-ngadakan perkara baru dalam agama kami ini apa-apa yang bukan daripadanya maka ia tertolak.” (Muttafaqun ‘alaihi).

2. Hadits Aisyah , bahwa Rasulullah  bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 4590).

3. Hadits Jabir bin Abdullah  yang mengisahkan khutbah Rasulullah  :
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam) dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru (dalam agama) dan semua perkara baru (dalam agama) itu sesat.” (HR. Muslim no. 2042).

4. Hadits al-Irbadh bin Sariyah , bahwa Rasulullah  bersabda :
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Aku wasiatkan kalian agar senantiasa taqwa kepada Allah serta mendengar dan taat kepada pemimpin (negara) meskipun pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah, karena sesungguhnya siapa pun diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak (dalam agama), maka wajib bagi kalian (menghindari perselisihan tersebut) dengan berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Peganglah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara baru (bid’ah dalam agama) karena setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud no. 4609, Tirmidzy no. 2677).

Setelah Rasulullah  menjelaskan kepada kita bahwa semua perkara baru dalam agama yang tidak bersandar kepada dalil syar’i adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat, masihkah pantas bagi kita beramal hanya karena mengikuti seorang tokoh atau mengikuti kebanyakan orang!? Dan masihkah layak kita berpendapat ada bid’ah yang baik (hasanah)!?

Maka di sinilah pentingnya ilmu sebelum beribadah kepada Allah Ta’ala. Bahwa ibadah tidak boleh sekedar semangat, tetapi harus berlandaskan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh generasi awal ummat Islam. Wallohul Muwaffiq.
Semoga bisa menjadi nasehat, barokallohu fiik.

No comments:

Post a Comment